The Best Husband I Ever HAd

Rasanya gimanaa gitu nulis judul di atas. Lha, emang saya punya berapa suami?? Hihi.. of course saya cuma punya 1 suami. Dan saya berharap, beliaulah suami pertama dan terakhir… Juga berharap, saya kan mendampinginya di Jannah-Nya kelak. Aamiin….

Sedikit kisah tadi malam..

Seperti biasa, saat senggang. Bercengkrama berdua. Tiba-tiba suami bertanya, “Mmm, dek. Coba dipikir-pikir, selama Mas jadi suami adek, apa ada yang kurang/cacat pada diri Mas sebagai suami?”

Heh?! Dahi saya langsung berkerut. Tapi kemudian langsung membalas dengan santai.

“Ada Mas! Fulus-nya kurang!!” Kataku sambil memperagakan isyarat dengan tangan.

Suami langsung tertawa lepas, “Haduuh.. Bukan itu! Kalau masalah fulus mah gampang. Kalau beneran kurang, bulan depan tinggal Mas tambah.. Heheee”

Haha.. kini giliranku yang tertawa. Ga lah… kan tadi cuma bercando sajooo😛

“Ayo dooong dek! Dipikir benar-benar… ” Ucap suami dengan wajah penuh harap.

Hmm.. apa ya???? Saya benar-benar berpikir keras. Sel-sel memori kupaksa mengingat, adakah cela pada diri suamiku?

Ayo dong dek. Ga mungkin ga ada. Tinggal ingat-ingat aja dari Mas bangun tidur sampai Mas tidur lagi..

Haduuh, apa coba? Lha kalau emang ga ada yang menurutku kurang, masa’ harus memaksakan diri menjawab? Lagian, Mas aneh deh, perasaan dah sering banget tanya pertanyaan seperti ini. Kalau diingat-ingat, per 3 bulan Mas tanya hal seperti ini😀

Dek?

Ahaaa! Teringat kebiasaan buruk suami yang kadang bikin saya jengkel setengah hidup😛

Saya sebutkan 2 kebiasaan buruk suami yang saya tidak suka. Suami manggut-manggut sambil tersenyum. Hm.. dalam hati saya merasa, bahwa saya masih terlalu memaksakan diri menjawab itu.

“Lalu dek… kalau Mas sebagai menantu, juga anggota keluarga di keluarga adek, adakah yang kurang?

Haduuh, pertanyaan apa pula ini? Makin bingung saya –a

Ya. Kebingungan saya bukan berarti saya tak punya jawaban. Bukan berarti suamiku adalah suami tanpa cela. Tidak! Hanya saja.. saya merasa bahwa segala kebaikan suami, sudah sanggup menutup segala kekurangannya. Segala kekurangannya pun, sejauh ini adalah kekurangan-kekurangan kecil, yang masih bisa saya tolerir. Kekurangan yang belum ada apa-apanya dibanding kekurangan-kekuranganku yag banyaak sebagai istri.

Bagaimana saya bisa bilang ada yang kurang, sedangkan selama ini saya lihat suami sudah berusaha memenuhi segala kewajibannya sebagai suami dan berusaha memenuhi hak-hak saya sebagai istri.

Apa yang kurang, sedangkan suami berusaha berakhlaq semulia mungkin sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Yah, bukan berarti saya tidak pernah menangis karena tersinggung dengan perkataan atau sikap suami. Tapi, setiap saya menangis atau marah, suami akan segera menyadari kesalahannya dan berusaha dengan segenap cara membuat saya tersenyum lagi. Dan saat itu, saya menjadi merasa, saya-lah yang terlalu kekanak-kanakan.. dan bukan suami yang salah.

Suamiku… engkau adalah nikmat istimewa dari Rabb-ku..

Jawaban atas segala doaku di penghujung malam.. di antara adzan dan iqomat.. di saat puasa dan hujan..
Engkau jawaban atas doaku, di saat aku mengadu pada Rabb-ku.. di saat aku sedih dan merasa lemah..

Engkaulah.. yang dahulu kuperjuangkan sedemikian rupa di hadapan orangtua dan keluargaku. Bukan karena aku terlanjur suka.. karena aku hanya sedikit sekali mengenalmu ketika itu. Hanya berbekal biodata dan sekilas info dari orang terdekatmu.  Ku perjuangkanmu.. karena saat itu aku sudah begitu lelah.. setelah penolakan demi peolakan saat kusodorkan satu persatu nama ikhwan… saat itu, adalah titik puncakku! Aku tak tahu tagi, masihkah aku punya semangat untuk berjuang agar bisa menikah dengan seorang ikhwan bermanhaj salaf,, jika engkau pun ditolak. Sedangkan menurutku, engkaulah ikhwan yang paling mendekati kriteria orangtuaku (aku ingat, bahkan dulu pun ada beberapa orang yang mempertanyakan, kenapa aku lebih memilihmu,, bukan ikhwan A, yang kemampuan bahasa arabnya sudah mahir. Bukan ikhwan B, yang hafalannya banyak. Bukan ikhwan C yang pintar ilmu diennya. Kenapa aku menolak ikhwan D, E, dll…. Ah! Biarlah Allah saja yang tahu alasannya). Lagipula, engkaulah ikhwan pertama yang ta’aruf denganku, dan kau sungguh berharap, hanya perlu satu kali ta’aruf.

Tapi kini, suamiku.. aku bersyukur bahwa aku dulu begitu memperjuangkanmu. Dan aku juga bersyukur, bahwa dulu engkau pun bertahan sedemikian rupa meski menghadapi berbagai ujian dari keluargaku.

Engkau yang dahulu hampir ditolak, kini menjelma menjadi menantu kesayangan, bahkan “anak laki-laki kecintaan”.
Dulu, aku tertunduk malu jika ditanya tentangmu.. tapi kini aku bisa berkata dengan bangga, “Aku tak salah kan memilihnya menjadi suamiku”

Suamiku, engkau lebih dari cukup bagiku. Bagaimana tidak.. Bukankah sebuah nikmat luar biasa mendapatkan suami yang benar-benar meletakkan seorang istri sesuai fitrahnya sebagai seorag wanita, yaitu menjadikan rumah kita sebagai istanaku. Engkau yang sanggup menarik simpati orangtuaku, sehingga membiarkanku tetap di istana kita, menjadi seorang istri sepenuhnya, buakn sebagai wanita karir. Engkau mewujudkannya segala idealisme kita, bahwa seorang istri laya’nya benar-benar berperan sebagai istri & ibu. Dan engkau, mewujudkannya dengan cara yag apik… denga lembut dan hikmah. Engkau tahu suamiku, tak semua ikhwan bermanhaj salaf bisa melakukannya?!

Engkau memberikan gambaran seutuhnya pada keluarga besarku, tentag bagaimana seharusnya seorang suami. Suami yang baik, yang memenuhi tanggungjawabnya memberi nafkah keluarganya. Yang tak hanya itu, tapi juga suami yang ringan tangan, membantu dan bekerjasama melakukan segala pekerjaan rumahtangga. Yang begitu lembut akhlaqnya.. juga memikat keramahannya. Engkau membuat keluargaku membuka mata, begini seharusnya seorang suami.

Suamiku, oranglain akan bilang aku berlebihan menilaimu. Tapi aku tak peduli. Karena mereka tak benar-benar tahu kondisinya. Mereka tak benar-benar tahu tentangku dan tentangmu. Mereka tak benar-benar tahu tentang keluarga kecil kita.

Aku hanya ingin menulis ini.. agar selalu teringat. Dan menjadi catatan indah bagi pelayaran biduk kita.

Berharap.. engkau kan selalu seperti ini. Suami yang membuatku selalu merasa bersyukur karena menjadi istrimu. Karena mengandung anak-anakmu. Suami yang membuatku merasa masih menjadi istri paling kurang di dunia, karena kebaikan-kebaikanmu yang begitu banyak.

And… you are the best husband I ever had…

Alhamdulillahilladzi bi ni’matih tatimmush sholihat

2 thoughts on “The Best Husband I Ever HAd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s