Antara Kebutuhan, Keinginan dan Kondisi

Yah, masalah klasik dan akan terus dihadapai oleh ibu rumah tangga adalah menyelaraskan antara kebutuhan, keinginan dan kondisi (Baca: kondisi dompet :P). Apalagi bagi pasangan baru seperti kami, yang masih harus banyak belajar mengatur keuangan rumah tangga.

HPL masih lumayan lama… tapi list kebutuhan (dan tentu saja: keinginan) sudah panjang. Tapi, seiring waktu yang terus berjalan, yang ada justru kebingungan. Mana kebutuhan yang harus didahulukan.

Kulkas dan Mesin Cuci
Keinginan yang sudah terpendam sejak lama untuk membeli Kulkas dan Mesin cuci, kini berubah menjadi kebutuhan yang cukup mendesak. Jika dahulu aku menahan diri untuk tidak membeli dalam rangka untuk melatih diri agar menjadi Istri rumah tangga yang lebih mandiri dan tidak manja dengan berbagai fasilitas elektronik, tapi kini kebutuhan untuk membeli kulkas dan mesin cuci itu terhambat dengan masalah tempat.

Kondisi kontrakan kami yang hanya berukuran 2,5 m x 11 m (maklum, rumah petak :P).. rasanya sama sekali tidak memungkinkan untuk membeli kulkas dan mesin cuci. The question is: Mau ditaruh di mana kulkas dan mesin cucinya??? hiks hiks.

Saat ini kontrakan kami sudah cukup penuh dengan barang-barang. Itu pun sudah diatur sedemikian rupa, agar kontrakan tetap terlihat agak luas.

Padahal, setelah melahirkan nanti, rasanya adanya kulkas dan mesin cuci akan sangat membantu pekerjaan. Karena sejak awal menikah, kami sudah berkomitmen untuk menerapkan pola masak dan pola makan sehat, sedangkan jika nanti sudah ada baby, rasanya kok agak sulit ya kalau harus belanja setiap hari. Dan sebenarnya masalah utama bukan di situ, tapi lebih ke variasi makanan. Sayur dan bahan mentah lauk yang dijual pendagang sayur di sekeliling kontrakan sangat terbatas. Itu menjadikan masakanku jadi kurang bervariasi. Belum lagi, sering kali kudapati ayam dan ikan-ikan yang dijual kurang segar. Kadang terpikir, enak sekali kalau bisa belanja di Pasar Minggu. Tak hanya lebih murah, tapi juga lebih segar.. dan tentu saja praktis! Bisa sekaligus beli banyak untuk persediaan minimal seminggu. Variasi masakan pun insyaAlloh akan lebih beragam (yang akan berujung pada nilai gizi yang lebih lengkap). Tapi permasalahannya selama ini adalah kami belum mempunyai kulkas, sehingga jika membeli sekaligus banyak, justru akan mubadzir (karena jika membeli eceran di Pasar Minggu, justru malah rugi. Karena harganya hanya selisih sedikit dengan tukang sayur keliling).

Ditambah pertimbangan bahwa kami akan butuh kulkas untuk tempat penyimpanan ASIP. Ini alasan terkuat kenapa akhir-akhir ini aku begitu ingin membeli kulkas.

Mesin Cuci.. sebenarnya masih ga terlalu urgent ya. Karena aku sendiri berharap, kalau setelah melahirkan nanti aku masih harus “terpaksa” mencuci pakai tangan, maka aku kan cepet langsingnya (hohoooo ^^). Aku pengen mesin cuci, hanya karena fungsi mesin pengeringnya itu lho, hehe. Ketika Jakarta berhari-hari hujan, sangat terasa repotnya ketika baju jemuran beberapa hari dijemur baru kering. Duh, kok ga kebayang ya kalau nanti bajunya dedek ga cepet kering…

Akhirnya, keinginan lama yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini pun kami tunda sementara. Minimal sampai kami mendapat kontrakan baru… yang aku berharap,,, sangat, semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih baik dari sekarang. Minimal sama-lah luasnya dengan kontrakan kami yang pertama, hehe.

HP Baru

Sebenarnya ini kebutuhan yang baru muncul. Kok passs banget, qodarulloh. Baik HP-ku dan HP suamiku butuh untuk dilembiru. Dilempar trus beli baru, hehe. Permasalahannya sama, HP kami sering mati mendadak, karena batere yang sudah drop. Masih ditambah kemasan luar yang sudah tak laya’ dilihat😛

Kebutuhan untuk beli HP baru sebenarnya sudah cukup lama. Tapi keinginan yang belum ada. Aku dan suami, sama-sama tipe yang melihat HP dari fungsinya. Yang penting bisa buat sms dan telp, it’s enough. ga perlu apliaksi macam-macam. Ga perlu model terbaru. Ga perlu smartphone. Asal pekerjaan masih lancar-lancar saja, it’s okaylah.

Agak malu sebenarnya, ketika ada acara kantor suami. Bertemu dengan rekan-rekan kerjanya, juga keluarga mereka. Wedeeww, semuanya pakai HP smartphone yang keren-keren, mahal, plus keluaran terbaru. Kami? masih berusaha Pede, meski ya terkadang sembunyi-sembunyi kalau mau pakai HP di dekat mereka, hehe.

Tapi, kata “butuh” menjadi muncul. Saat kami dapati bahwa HP kami memang fungsinya sudah sangat menurun. Ditambah, kami perlu beberapa aplikasi dan memori yang lebih besar untuk memperlancar pekerjaan. Dan sebuah lasan terakhir yang cukup manis (:D), kami ingin membuat dokumentasi perkembangan buah hati.

Untuk alasan satu itu (dokumentasi perkembangan buah hati), awalnya suami ingin beli webcam saja. Kenapa bukan kamera digital? karena suami ingin keluar dari khilaf masalah foto. Terlebih, melihat video tampaknya lebih menarik, dekskriptif dan “hidup”. Tapi ketika survey harga webcam…. wow! Dalam hati langsung terpikir, Ah, mending uangnya ditabung buat mbangun rumah aja.

So, keinginan beli webcam pun dicoret tebballl… diganti dengan HP yang bisa sekaligus untuk dokumentasi.

Biaya kelahiran dan Perlengkapan Baby

Alhamdulillah, nikmatnya jadi anak bungsu, hihi. Kami jadi tidak terlalu memusingkan kebutuhan yang satu ini. Alhamdulillah, perlengkapan bayi milik sepupu-sepupunya dedek banyak dan masih cukup bagus. Jadi, kami disuruh untuk memanfaatkan, bahkan dilarang keras untuk beli perlengkapan bayi yang baru. Kalaupun beli, yang kurang-kurang aja. InsyaAllah ga membutuhkan dana yang terlalu besar. Terlebih, ibu kan penjual baju dan perlengkapan bayi. Ntar tinggal masuk toko-nya ibu aja,, trus minta harga grosir deh, qiqiqiqiqi… alhamdulillah ^^

Biaya untuk melahirkan juga alhamdulillah sudah dipikirkan jauh-jauh hari, sejak tahu kalau lagi hamil. Karena ini kebutuhan vital,, yang dananya ga boleh diganggu gugaaat oleh kebutuhan yang lain.

Antara Kebutuhan, Keinginan, Kondisi… serta Bakat Belanja

List kebutuhan sudah ada, bahkan panjaang. Keinginan juga ada. Nah, ternyata masalah utama kami bukan pada kondisi, tapi pada Bakat Belanja!! Haha.

Begitulah saudara-saudara. Setahun 2 bulan usia pernikahan kami, satu lagi kesamaan yang ku temukan. Bahwa kami ini sama sekali tak berbakat belanja, hehe.

Teringat.. sepatu kantor suami yang seharusnya segeran diganti dengan yang lebih pantas. Teringat, bahwa suami membutuhkan lebih banyak celana panjang dan kemeja untuk kerja (karena yang dimiliki masih sedikit sekali, ngepas dengan jadwal mencuci dan menjemur, hehe). Teringat, bahwa suami baru punya 1 kemeja batik lengan panjang (padahal sering sekali ada acara kantor yang mengharuskan pakai kemeja batik lengan panjang). Teringat, bahwa aku sebenarnya juga butuh sandal yang lebih laya’. Teringat, bahwa aku juga butuh beberapa stel baju baru yang lebih laya’ dipakai jika ada acara kantor suami. Teringat, mantel bentuk pakaian yang sangat urgent untuk dimiliki suami (tahu sendiri kan,, baru musim hujan deras plus angin. Ditambah kondisi lalu lintas jakarta yang awut-awutan).  Teringat, suami butuh koper ukuran sedang agar lebih praktis.

Teringat….. aah, banyak sekali kebutuhan yang belum terbeli gara-gara kami ga punya bakat belanja😛

Ga tahu ya. Kami ini sama-sama terlalu banyak pertimbangan dalam membeli sesuatu. Bahkan sesuatu yang urgent sekali pun. Kami ini, sama-sama ga suka mall, toko, maupun pusta perbelanjaan lain. Ga betah lah. satu-satunya pusat perbelanjaan yang kami sukai hanyalah pasar tradisional😀

Payah sebenarnya. Karena bagaimana pun, bakat belanja itu “penting”. Karena, yang namanya kebutuhan kan emang harus dipenuhi, apalagi kebutuhan yang vital dan urgent.

Suamiku memang tipe yang sederhana plus ngiritan. Tipe yang ga nyaman jika memakai barang yang agak mahalan dikit. beliau juga berotak bisnis, beliau lebih banyak berpikir untuk bagaimana memutar uang, menghasilkan uang, daripada sekadar untuk belanja hal-hal yang menurut beliau, kita masih bisa cari barang bagus dengan harga yang lebih murah (padahal nanti lamaaa banget dapetnya, heuu heuuu).

Sedangkan aku adalah anak pedagang, yang banyak tahu harga kulakan berbagai macam barang. Jadi kalau mau beli sesuatu, selalu terpikir “Ah, kan harga kulakannya cuma segini😛

So, agak ragu-ragu sebenarnya.. apakah nanti list di atas akan jadi terbeli. Ataukah tertunda lagi seperti yang dulu-dulu. Wait and see….

Yang jelas, meski sama-sama ga punya bakat belanja.. untungnya kami sama dalam hal lain. Bahwa Pendidikan dan Kesehatan itu Penting. Dan memang harganya mahal. Jadi, ga ada kata ngirit untuk hal itu. Kami harus memberikan yang terbaik jika sudah menyangkut keluarga. Apalagi demi buah hati tercinta… ^__^

2 thoughts on “Antara Kebutuhan, Keinginan dan Kondisi

  1. Tuuh kaan.. ga jadi beli webcam.. hohooo. Biasanya cuma pengen aja,, trus tahu harganya, ga jadi deh😛

    HP juga.. ga tahu nih.. tiap kali ditanya, “Mas, gimana.. jadi mo ganti HP? Itu kaya’nya dah makin parah aja rusaknya..” Yg ditanya juga cuma senyam-senyum… cengar-cengir.. HP lawas diliat-liat.. dibolak-balik.. “Masih bagus kok Dek”… eaaaa,, gubraakkzz!! Awass nanti kalau ada yang ngeluh HP-nya bermasalah –‘

    Kalau diingat-ingat, kapan sih aku berhasil “membujuk” suami beli barang baru?? Seringnya, kalau udah kesel, diam-diam aku beliin sendiri, trus langsung tak kasih suami, tak paksa make😛

    Tapi uniknya.. begitulah juga aku.. kepengen beli sesuatu.. tapi ga jadi-jadi.. trus akhirnya diam-diam suami juga beliin buat aku, trus maksa make😀😀😀

    Yo wis, sesama ga punya bakat belanja, ga boleh saling nyindir, qiqiqiqiqiqi

  2. gak baca semuanya….panjaaanng hehe…
    ana berapa tahun nyuci gak pake mesin cuci fatim. Kalo lagi musim hujan…bisa 4 hari gak kering. Emang gitu. InsyaAllah masih bisa diatasin.

    Kalo kulkas…fatim kenapa mo pake ASIP? Biasanya kan yang ibu2 kantoran yang mo merah2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s