Arsip

Antara Kebutuhan, Keinginan dan Kondisi

Yah, masalah klasik dan akan terus dihadapai oleh ibu rumah tangga adalah menyelaraskan antara kebutuhan, keinginan dan kondisi (Baca: kondisi dompet :P). Apalagi bagi pasangan baru seperti kami, yang masih harus banyak belajar mengatur keuangan rumah tangga.

HPL masih lumayan lama… tapi list kebutuhan (dan tentu saja: keinginan) sudah panjang. Tapi, seiring waktu yang terus berjalan, yang ada justru kebingungan. Mana kebutuhan yang harus didahulukan.

Kulkas dan Mesin Cuci
Keinginan yang sudah terpendam sejak lama untuk membeli Kulkas dan Mesin cuci, kini berubah menjadi kebutuhan yang cukup mendesak. Jika dahulu aku menahan diri untuk tidak membeli dalam rangka untuk melatih diri agar menjadi Istri rumah tangga yang lebih mandiri dan tidak manja dengan berbagai fasilitas elektronik, tapi kini kebutuhan untuk membeli kulkas dan mesin cuci itu terhambat dengan masalah tempat.

Kondisi kontrakan kami yang hanya berukuran 2,5 m x 11 m (maklum, rumah petak :P).. rasanya sama sekali tidak memungkinkan untuk membeli kulkas dan mesin cuci. The question is: Mau ditaruh di mana kulkas dan mesin cucinya??? hiks hiks.

Saat ini kontrakan kami sudah cukup penuh dengan barang-barang. Itu pun sudah diatur sedemikian rupa, agar kontrakan tetap terlihat agak luas.

Padahal, setelah melahirkan nanti, rasanya adanya kulkas dan mesin cuci akan sangat membantu pekerjaan. Karena sejak awal menikah, kami sudah berkomitmen untuk menerapkan pola masak dan pola makan sehat, sedangkan jika nanti sudah ada baby, rasanya kok agak sulit ya kalau harus belanja setiap hari. Dan sebenarnya masalah utama bukan di situ, tapi lebih ke variasi makanan. Sayur dan bahan mentah lauk yang dijual pendagang sayur di sekeliling kontrakan sangat terbatas. Itu menjadikan masakanku jadi kurang bervariasi. Belum lagi, sering kali kudapati ayam dan ikan-ikan yang dijual kurang segar. Kadang terpikir, enak sekali kalau bisa belanja di Pasar Minggu. Tak hanya lebih murah, tapi juga lebih segar.. dan tentu saja praktis! Bisa sekaligus beli banyak untuk persediaan minimal seminggu. Variasi masakan pun insyaAlloh akan lebih beragam (yang akan berujung pada nilai gizi yang lebih lengkap). Tapi permasalahannya selama ini adalah kami belum mempunyai kulkas, sehingga jika membeli sekaligus banyak, justru akan mubadzir (karena jika membeli eceran di Pasar Minggu, justru malah rugi. Karena harganya hanya selisih sedikit dengan tukang sayur keliling).

Ditambah pertimbangan bahwa kami akan butuh kulkas untuk tempat penyimpanan ASIP. Ini alasan terkuat kenapa akhir-akhir ini aku begitu ingin membeli kulkas.

Mesin Cuci.. sebenarnya masih ga terlalu urgent ya. Karena aku sendiri berharap, kalau setelah melahirkan nanti aku masih harus “terpaksa” mencuci pakai tangan, maka aku kan cepet langsingnya (hohoooo ^^). Aku pengen mesin cuci, hanya karena fungsi mesin pengeringnya itu lho, hehe. Ketika Jakarta berhari-hari hujan, sangat terasa repotnya ketika baju jemuran beberapa hari dijemur baru kering. Duh, kok ga kebayang ya kalau nanti bajunya dedek ga cepet kering…

Akhirnya, keinginan lama yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini pun kami tunda sementara. Minimal sampai kami mendapat kontrakan baru… yang aku berharap,,, sangat, semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih baik dari sekarang. Minimal sama-lah luasnya dengan kontrakan kami yang pertama, hehe.

HP Baru

Sebenarnya ini kebutuhan yang baru muncul. Kok passs banget, qodarulloh. Baik HP-ku dan HP suamiku butuh untuk dilembiru. Dilempar trus beli baru, hehe. Permasalahannya sama, HP kami sering mati mendadak, karena batere yang sudah drop. Masih ditambah kemasan luar yang sudah tak laya’ dilihat 😛

Kebutuhan untuk beli HP baru sebenarnya sudah cukup lama. Tapi keinginan yang belum ada. Aku dan suami, sama-sama tipe yang melihat HP dari fungsinya. Yang penting bisa buat sms dan telp, it’s enough. ga perlu apliaksi macam-macam. Ga perlu model terbaru. Ga perlu smartphone. Asal pekerjaan masih lancar-lancar saja, it’s okaylah.

Agak malu sebenarnya, ketika ada acara kantor suami. Bertemu dengan rekan-rekan kerjanya, juga keluarga mereka. Wedeeww, semuanya pakai HP smartphone yang keren-keren, mahal, plus keluaran terbaru. Kami? masih berusaha Pede, meski ya terkadang sembunyi-sembunyi kalau mau pakai HP di dekat mereka, hehe.

Tapi, kata “butuh” menjadi muncul. Saat kami dapati bahwa HP kami memang fungsinya sudah sangat menurun. Ditambah, kami perlu beberapa aplikasi dan memori yang lebih besar untuk memperlancar pekerjaan. Dan sebuah lasan terakhir yang cukup manis (:D), kami ingin membuat dokumentasi perkembangan buah hati.

Untuk alasan satu itu (dokumentasi perkembangan buah hati), awalnya suami ingin beli webcam saja. Kenapa bukan kamera digital? karena suami ingin keluar dari khilaf masalah foto. Terlebih, melihat video tampaknya lebih menarik, dekskriptif dan “hidup”. Tapi ketika survey harga webcam…. wow! Dalam hati langsung terpikir, Ah, mending uangnya ditabung buat mbangun rumah aja.

So, keinginan beli webcam pun dicoret tebballl… diganti dengan HP yang bisa sekaligus untuk dokumentasi.

Biaya kelahiran dan Perlengkapan Baby

Alhamdulillah, nikmatnya jadi anak bungsu, hihi. Kami jadi tidak terlalu memusingkan kebutuhan yang satu ini. Alhamdulillah, perlengkapan bayi milik sepupu-sepupunya dedek banyak dan masih cukup bagus. Jadi, kami disuruh untuk memanfaatkan, bahkan dilarang keras untuk beli perlengkapan bayi yang baru. Kalaupun beli, yang kurang-kurang aja. InsyaAllah ga membutuhkan dana yang terlalu besar. Terlebih, ibu kan penjual baju dan perlengkapan bayi. Ntar tinggal masuk toko-nya ibu aja,, trus minta harga grosir deh, qiqiqiqiqi… alhamdulillah ^^

Biaya untuk melahirkan juga alhamdulillah sudah dipikirkan jauh-jauh hari, sejak tahu kalau lagi hamil. Karena ini kebutuhan vital,, yang dananya ga boleh diganggu gugaaat oleh kebutuhan yang lain.

Antara Kebutuhan, Keinginan, Kondisi… serta Bakat Belanja

List kebutuhan sudah ada, bahkan panjaang. Keinginan juga ada. Nah, ternyata masalah utama kami bukan pada kondisi, tapi pada Bakat Belanja!! Haha.

Begitulah saudara-saudara. Setahun 2 bulan usia pernikahan kami, satu lagi kesamaan yang ku temukan. Bahwa kami ini sama sekali tak berbakat belanja, hehe.

Teringat.. sepatu kantor suami yang seharusnya segeran diganti dengan yang lebih pantas. Teringat, bahwa suami membutuhkan lebih banyak celana panjang dan kemeja untuk kerja (karena yang dimiliki masih sedikit sekali, ngepas dengan jadwal mencuci dan menjemur, hehe). Teringat, bahwa suami baru punya 1 kemeja batik lengan panjang (padahal sering sekali ada acara kantor yang mengharuskan pakai kemeja batik lengan panjang). Teringat, bahwa aku sebenarnya juga butuh sandal yang lebih laya’. Teringat, bahwa aku juga butuh beberapa stel baju baru yang lebih laya’ dipakai jika ada acara kantor suami. Teringat, mantel bentuk pakaian yang sangat urgent untuk dimiliki suami (tahu sendiri kan,, baru musim hujan deras plus angin. Ditambah kondisi lalu lintas jakarta yang awut-awutan).  Teringat, suami butuh koper ukuran sedang agar lebih praktis.

Teringat….. aah, banyak sekali kebutuhan yang belum terbeli gara-gara kami ga punya bakat belanja 😛

Ga tahu ya. Kami ini sama-sama terlalu banyak pertimbangan dalam membeli sesuatu. Bahkan sesuatu yang urgent sekali pun. Kami ini, sama-sama ga suka mall, toko, maupun pusta perbelanjaan lain. Ga betah lah. satu-satunya pusat perbelanjaan yang kami sukai hanyalah pasar tradisional 😀

Payah sebenarnya. Karena bagaimana pun, bakat belanja itu “penting”. Karena, yang namanya kebutuhan kan emang harus dipenuhi, apalagi kebutuhan yang vital dan urgent.

Suamiku memang tipe yang sederhana plus ngiritan. Tipe yang ga nyaman jika memakai barang yang agak mahalan dikit. beliau juga berotak bisnis, beliau lebih banyak berpikir untuk bagaimana memutar uang, menghasilkan uang, daripada sekadar untuk belanja hal-hal yang menurut beliau, kita masih bisa cari barang bagus dengan harga yang lebih murah (padahal nanti lamaaa banget dapetnya, heuu heuuu).

Sedangkan aku adalah anak pedagang, yang banyak tahu harga kulakan berbagai macam barang. Jadi kalau mau beli sesuatu, selalu terpikir “Ah, kan harga kulakannya cuma segini 😛

So, agak ragu-ragu sebenarnya.. apakah nanti list di atas akan jadi terbeli. Ataukah tertunda lagi seperti yang dulu-dulu. Wait and see….

Yang jelas, meski sama-sama ga punya bakat belanja.. untungnya kami sama dalam hal lain. Bahwa Pendidikan dan Kesehatan itu Penting. Dan memang harganya mahal. Jadi, ga ada kata ngirit untuk hal itu. Kami harus memberikan yang terbaik jika sudah menyangkut keluarga. Apalagi demi buah hati tercinta… ^__^

Iklan

The Best Husband I Ever HAd

Rasanya gimanaa gitu nulis judul di atas. Lha, emang saya punya berapa suami?? Hihi.. of course saya cuma punya 1 suami. Dan saya berharap, beliaulah suami pertama dan terakhir… Juga berharap, saya kan mendampinginya di Jannah-Nya kelak. Aamiin….

Sedikit kisah tadi malam..

Seperti biasa, saat senggang. Bercengkrama berdua. Tiba-tiba suami bertanya, “Mmm, dek. Coba dipikir-pikir, selama Mas jadi suami adek, apa ada yang kurang/cacat pada diri Mas sebagai suami?”

Heh?! Dahi saya langsung berkerut. Tapi kemudian langsung membalas dengan santai.

“Ada Mas! Fulus-nya kurang!!” Kataku sambil memperagakan isyarat dengan tangan.

Suami langsung tertawa lepas, “Haduuh.. Bukan itu! Kalau masalah fulus mah gampang. Kalau beneran kurang, bulan depan tinggal Mas tambah.. Heheee”

Haha.. kini giliranku yang tertawa. Ga lah… kan tadi cuma bercando sajooo 😛

“Ayo dooong dek! Dipikir benar-benar… ” Ucap suami dengan wajah penuh harap.

Hmm.. apa ya???? Saya benar-benar berpikir keras. Sel-sel memori kupaksa mengingat, adakah cela pada diri suamiku?

Ayo dong dek. Ga mungkin ga ada. Tinggal ingat-ingat aja dari Mas bangun tidur sampai Mas tidur lagi..

Haduuh, apa coba? Lha kalau emang ga ada yang menurutku kurang, masa’ harus memaksakan diri menjawab? Lagian, Mas aneh deh, perasaan dah sering banget tanya pertanyaan seperti ini. Kalau diingat-ingat, per 3 bulan Mas tanya hal seperti ini 😀

Dek?

Ahaaa! Teringat kebiasaan buruk suami yang kadang bikin saya jengkel setengah hidup 😛

Saya sebutkan 2 kebiasaan buruk suami yang saya tidak suka. Suami manggut-manggut sambil tersenyum. Hm.. dalam hati saya merasa, bahwa saya masih terlalu memaksakan diri menjawab itu.

“Lalu dek… kalau Mas sebagai menantu, juga anggota keluarga di keluarga adek, adakah yang kurang?

Haduuh, pertanyaan apa pula ini? Makin bingung saya –a

Ya. Kebingungan saya bukan berarti saya tak punya jawaban. Bukan berarti suamiku adalah suami tanpa cela. Tidak! Hanya saja.. saya merasa bahwa segala kebaikan suami, sudah sanggup menutup segala kekurangannya. Segala kekurangannya pun, sejauh ini adalah kekurangan-kekurangan kecil, yang masih bisa saya tolerir. Kekurangan yang belum ada apa-apanya dibanding kekurangan-kekuranganku yag banyaak sebagai istri.

Bagaimana saya bisa bilang ada yang kurang, sedangkan selama ini saya lihat suami sudah berusaha memenuhi segala kewajibannya sebagai suami dan berusaha memenuhi hak-hak saya sebagai istri.

Apa yang kurang, sedangkan suami berusaha berakhlaq semulia mungkin sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Yah, bukan berarti saya tidak pernah menangis karena tersinggung dengan perkataan atau sikap suami. Tapi, setiap saya menangis atau marah, suami akan segera menyadari kesalahannya dan berusaha dengan segenap cara membuat saya tersenyum lagi. Dan saat itu, saya menjadi merasa, saya-lah yang terlalu kekanak-kanakan.. dan bukan suami yang salah.

Suamiku… engkau adalah nikmat istimewa dari Rabb-ku..

Jawaban atas segala doaku di penghujung malam.. di antara adzan dan iqomat.. di saat puasa dan hujan..
Engkau jawaban atas doaku, di saat aku mengadu pada Rabb-ku.. di saat aku sedih dan merasa lemah..

Engkaulah.. yang dahulu kuperjuangkan sedemikian rupa di hadapan orangtua dan keluargaku. Bukan karena aku terlanjur suka.. karena aku hanya sedikit sekali mengenalmu ketika itu. Hanya berbekal biodata dan sekilas info dari orang terdekatmu.  Ku perjuangkanmu.. karena saat itu aku sudah begitu lelah.. setelah penolakan demi peolakan saat kusodorkan satu persatu nama ikhwan… saat itu, adalah titik puncakku! Aku tak tahu tagi, masihkah aku punya semangat untuk berjuang agar bisa menikah dengan seorang ikhwan bermanhaj salaf,, jika engkau pun ditolak. Sedangkan menurutku, engkaulah ikhwan yang paling mendekati kriteria orangtuaku (aku ingat, bahkan dulu pun ada beberapa orang yang mempertanyakan, kenapa aku lebih memilihmu,, bukan ikhwan A, yang kemampuan bahasa arabnya sudah mahir. Bukan ikhwan B, yang hafalannya banyak. Bukan ikhwan C yang pintar ilmu diennya. Kenapa aku menolak ikhwan D, E, dll…. Ah! Biarlah Allah saja yang tahu alasannya). Lagipula, engkaulah ikhwan pertama yang ta’aruf denganku, dan kau sungguh berharap, hanya perlu satu kali ta’aruf.

Tapi kini, suamiku.. aku bersyukur bahwa aku dulu begitu memperjuangkanmu. Dan aku juga bersyukur, bahwa dulu engkau pun bertahan sedemikian rupa meski menghadapi berbagai ujian dari keluargaku.

Engkau yang dahulu hampir ditolak, kini menjelma menjadi menantu kesayangan, bahkan “anak laki-laki kecintaan”.
Dulu, aku tertunduk malu jika ditanya tentangmu.. tapi kini aku bisa berkata dengan bangga, “Aku tak salah kan memilihnya menjadi suamiku”

Suamiku, engkau lebih dari cukup bagiku. Bagaimana tidak.. Bukankah sebuah nikmat luar biasa mendapatkan suami yang benar-benar meletakkan seorang istri sesuai fitrahnya sebagai seorag wanita, yaitu menjadikan rumah kita sebagai istanaku. Engkau yang sanggup menarik simpati orangtuaku, sehingga membiarkanku tetap di istana kita, menjadi seorang istri sepenuhnya, buakn sebagai wanita karir. Engkau mewujudkannya segala idealisme kita, bahwa seorang istri laya’nya benar-benar berperan sebagai istri & ibu. Dan engkau, mewujudkannya dengan cara yag apik… denga lembut dan hikmah. Engkau tahu suamiku, tak semua ikhwan bermanhaj salaf bisa melakukannya?!

Engkau memberikan gambaran seutuhnya pada keluarga besarku, tentag bagaimana seharusnya seorang suami. Suami yang baik, yang memenuhi tanggungjawabnya memberi nafkah keluarganya. Yang tak hanya itu, tapi juga suami yang ringan tangan, membantu dan bekerjasama melakukan segala pekerjaan rumahtangga. Yang begitu lembut akhlaqnya.. juga memikat keramahannya. Engkau membuat keluargaku membuka mata, begini seharusnya seorang suami.

Suamiku, oranglain akan bilang aku berlebihan menilaimu. Tapi aku tak peduli. Karena mereka tak benar-benar tahu kondisinya. Mereka tak benar-benar tahu tentangku dan tentangmu. Mereka tak benar-benar tahu tentang keluarga kecil kita.

Aku hanya ingin menulis ini.. agar selalu teringat. Dan menjadi catatan indah bagi pelayaran biduk kita.

Berharap.. engkau kan selalu seperti ini. Suami yang membuatku selalu merasa bersyukur karena menjadi istrimu. Karena mengandung anak-anakmu. Suami yang membuatku merasa masih menjadi istri paling kurang di dunia, karena kebaikan-kebaikanmu yang begitu banyak.

And… you are the best husband I ever had…

Alhamdulillahilladzi bi ni’matih tatimmush sholihat

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah

Penulis: Ummu Rumman
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman

Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.
Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)

Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.

Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.

Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?

Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.

Kaidah Birrul Walidain

Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.

Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:

1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam

Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.

Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)

Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.

2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam

Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.

3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya

Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.

Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.

Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.

Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)

Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.

Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun –bi idznillah– akhirnya ridha kepada kita.

Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan

Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”

Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.

Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.

Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.

Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.

Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.

Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…

Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?

Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (Qs. At Tahrim 6)

Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?

Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.

Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.

Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.

Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.

Landasi Semuanya Dengan Ilmu

Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.

Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.

Karena itu, wahai saudariku…
Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia
Tegar dan sabarlah!
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah

Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.

Maraaji’:

  1. Durhaka kepada orang Tua oleh ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, majalah Al Furqon edisi 2 Tahun IV
  2. 14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah, Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
  3. Kajian Bahjah Qulub Al Abror oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, tanggal 4 November 2007

***

Artikel www.muslimah.or.id

Wanita Penghuni Surga Itu…

Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah
Muraja’ah: ustadz Abu Salman

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’

Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.

Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”
Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst”

Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?

Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.

Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi mereka petunjuk -.

Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.

Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah satunya adalah dengan doa. Baik doa yang dipanjatkan sendiri, maupun meminta didoakan orang shalih yang masih hidup. Dan dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.

Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.”

Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???

Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”

Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.

Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)

Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.

Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.

Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?

Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.

Marji’:
Syarah Riyadhush Shalihin (terj). Jilid 1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin. Cetakan ke-3. Penerbit Darul Falah. 2007 M.

***

Artikel muslimah.or.id

Istriku, Aku Mencintaimu..

Kendati dirinya telah keliling dunia, bahkan hampir tidak ada negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal itu terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan kemana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan semampunya. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal. Ia ingin naik pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televisi.

Sang adik mengabulkan keinginannya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementara ia pulang sendirian dengan mobil sambil diguncang oleh perasaan dan mobilnya.

Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang!! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan ke sana dari awal sampai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat pulang ia naik pesawat terbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan unuk selama-lamanya.

Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran.

Ia berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata yang berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita bagaimana laut tampak hitam di siang hari dan tampak biru di malam hari.

“Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepaskan lagi ke air.

Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan di sana. Oh ya, aku lupa, Khalid!” ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya, dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.”

Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia.

Air mata hampir menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah berkeliling dunia tapi tidak pernah sekalipun memberikan hadiah kepada sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan di dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?

Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal pemberian sang istri itu setara dengan semua uang yang pernah ia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas di benak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Ajaklah aku pergi bersamamu!” Atau bahkan, “Mengapa ia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, semua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.

Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia.

Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan ia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkannya untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang di dalam benaknya bahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dari lubuk hatinya.

Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat daripada kota Dammam, laut, dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.

http://www.shalihah.com
Sumber: “Malam Pertama, Setelah Itu Air Mata” karya Ahmad Salim Baduwailan, Penerbit eLBA

Kalaulah bukan karena Allah Menutupi Aib-aib Kita…

Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu ‘ala nabiyyinaa Muhammad, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsaan, wa ba’d.

Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”

Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”

Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)

Subhaanallah… Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…

***

Diambil dari www.muslim.or.id