Arsip

Salahkah Aku Menangis Hanya karena Air?!?!

Di antara semua keluhan ala ibu hamil, yang paling berat kurasakan adalah ketidakstabilan suasana hati. Entahlah, jadi serba sensi.

Mudah menangis… tapi juga mudah marah.. atas hal-hal yang begitu sepele!!!

Pikiranku jelas-jelas berkata padaku.. Kekanak-kanakan sekali, menangis dan marah hanya karena hal sepele. Tapi aku sendiri sering kali merasa kehilangan kontrol atas moodku sendiri T_T

Seperti hari ini, ketika untuk kesekian kalinya aku menangis cuma gara-gara air kran tidak mengalir!!

Konyol bukan?! Padahal, dulu semasa masih jadi anak kost selama bertahun-tahun, yang namanya air kos bermasalah, sehingga harus mengungsi mandi di kos-an teman juga ga masalah.

Yah, masalah air adalah masalah yang paling sering kuhadapi setelah pindah di kontrakan yang sekarang. Maklum, 1 pompa air digunakan bersama dengan kontrakan sebelah yang dihuni oleh beberapa ikhwan. Dan memang beginilah umumnya kondisi rumah petak ala Jakarta.

Masalahnya sebenarnya simple. Bahwa kami tidak memiliki tandon air, sehingga air hanya akan mengalir ketika pompa dinyalakan. Berarti, setiap kali menyalakan pompa, kami harus sekalian mengisi penuh bak mandi plus ember-ember yang kami punya, agar tak bolak-balik menyalakan pompa air.

Sayangnya, tombol untuk pompa air itu letaknya di depan rumah petak para ikhwan tersebut. Terus-terang, sungkan kalau mau menyalakan air.

Nah, ini dia permasalahan utamanya: bahwa jika kran di tempat kontrakan sebelah terbuka, maka air di kontrakan kami tidak akan mengalir. Setetes pun!!

Kondisiku rahimku yang semakin besar, membuatku sering bolak-balik kamar mandi. Belum lagi kondisiku yang sering lemah, sehingga agak ribet untuk bolak-balik menyalakan-mematikan pompa. Ember-ember yang kami miliki pun terbatas, sehingga harus kugunakan dengan cukup irit.. untuk mandi, kakus, masak, mencuci baju dan piring.

Agar tagihan listrik tak tinggi, biasanya kami hanya mengisi bak mandi saat air di kontrakan sudah benar-benar habis. Terkadang, saat itu-lah timbul masalah… penghuni kontrakan sebelah sering kali lupa menutup kran air di kontrakan mereka. Sehingga air tak kunjung mengalir di kontrakan kami meski pompa sudah dinyalakan. Yah, maklum, kontrakan sebelah memang dihuni oleh beberapa mahasiswa.

Jika di kontrakan sebelah sedang ada orang, tak masalah, kami tinggal minta tolong mereka untuk menutup kran airnya (tapi tetep ribet sebenarnya. Apalagi jika suami sedang kerja. AKu harus menghubungi suami dulu.. yang sering kali karena kesibukan kerja, telat membuka sms/tidak mengangkat telpku. Padahal air sudah benar-benar habis!!)

Yang jadi ribet adalah jika penghuni kontrakan sebelah sedang pergi atau pulang kampung semua. Maka, kami pun panik dan kelimpungan….

Teringat… ketika awal kami pindah ke sini… saat itu, awal perutku mulai membesar,, dan bisa puluhan kali dalam sehari aku bolak-balik ke kamar mandi. Dan permasalahan air itu pun muncul.. tiba-tiba saja air tidak dapat mengalir.

Sebenarnya kami sudah curiga sejak hari pertama pindah ke kontrakan ini. Ada yang tidak beres dengan airnya. Tahukah? hari pertama, kami terpaksa minta air dari tetangga sebelah. Dan saat permasalahan air itu kembali muncul.. yang saat itu, matinya air terjadi secara berkali-kali, saat aku sangat butuh air bersih… aku pun tak dapat menahan tangisku. Entahlah…. aku tak tahu mengapa jadi se-childish itu!

ALhamdulillah, untungnya suamiku sabar. Akhirnya beliau mengangkut air seember demi seember demi memenuhi bak mandi kami. Saat peristiwa ini terjadi, kami belum tahu bahwa permasalahan sebenarnya adalah gara-gara tetangga sebelah lupa menutup kran air di kontrakan mereka.

Alhamdulillah.. setelah diselidiki,, akhirnya ketahuan penyebab air sering tak mengalir di kontrakan kami. Alhamdulillah lagi,, bahwa sebenarnya tetangga kami adalah ikhwan-ikhwan yang baik akhlaqnya, Segera menyadari kesalahan mereka.. meski yaah, kadang masih juga kejadian mereka lupa menutup kran.. dan lagi-lagi, aku menangis!

Akhirnya kuputuskan untuk meminta suami, agar mencari kontrakan baru.. paling tidak,, setelah dedek lahir, kami sudah bisa pindah ke kontrakan yang lebih baik, yang lebih lancar aliran airnya. Sungguh tak terbayang, bagaimana jadinya dalam keadaan punya baby, tapi aliran airnya tak lancar begini.

Ya Allah, aku sendiri tak mengerti. Betapa childish-nya aku…

Sebenarnya aku betah di sini… meski kecil dan sederhana, kontrakan ini cukup nyaman dan aman. Tetangganya juga baik-baik.. tak seperti kontrakan lama, yang bahkan aku beberapa kali menangis karena setiap hari didzalimi tetangga, yang mereka bahkan tak kenal kami! Tapi mendzalimi kami hanya karena mereka benci dengan pemilik kontrakan kami!

Air.. bukankah itu adalah hal yang teramat penting!

Maafkan aku suami.. karena aku begitu childish… dan jazaakallohu khoiron,, engkau selalu sabar menghadapi kechilddish-anku….

Semoga kelak kita bisa mendapat kontrakan yang lebih baik… aamiin…

~Diriku yang sedang sensi.. dan ingin menulis tuk melegakan hati~

Iklan

Saat LDR di Depan Mata

Kalender. Barang yang rajin kami lihat akhir-akhir ini.

Yah. Waktu kepulangan untuk persiapan melahirkan di kampung sudah semakin dekat. Itu berarti, LDR di depan mata……

Fiuuf, tak terbayang. Seperti apa rasanya jauh dari suami selama berbulan-bulan. Meskipun nantinya suami akan tetap mengusahakan sering pulang, minimal sebulan sekali. Belum ngerasain, tapi rasanya kok berat banget ya, hehe. kalau cuma seminggu dua minggu pisah sih pernah, dan itu juga rasanya “gimanaa gitu“.
Tapi ya, itu sudah kami pertimbangkan masak-masak. Mengalah dulu lah, demi buah hati. Dan memang sangat tidak memungkinkan untuk melahirkan di Ibukota. Bukan sekedar biaya melahirkan yang muahaaalll (ga cuma mahal :P).. tapi juga berbagai alasan lain. InsyaALloh, semoga ini keputusan yang terbaik.

Inilah salah satu lika-liku dalam menjaga sebuah hubungan. Teringat kata-kata suami, “Adakala, perpisahan itu dibutuhkan untuk semakin menggelorakan cinta“.

Semoga, ketika LDR.. hubungan kami akan tetap kuat dan semakin kuat. Semoga kami bisa belajar lebih banyak tentang komunikasi yang baik, juga tentang kepercayaan.. saat pasangan jauh di mata.

Satu hal yang agak berat di pikiran.. nanti siapa yang nyuciin baju suami, siap ayang nyetrikain.. siapa yang masakin (soalnya suami ga suka makanan luar yang ga jelas kebersihannya).. siapa yang beresin rumah (kalau ini sih,, ga perlu khawatir kaya’nya).. siapa.. siapa.. siapa… duh, jadi khawatiran… tapi bismillah saja deh. Aku percaya, insyaAlloh suami bisa menghandle sendiri…. insyaAlloh ga kan kesepian juga, towh banyak temen ikhwan di sekitar kontrakan…

Baik-baik ya suamiku………. jaga diri baik-baik…
Jangan kaget, nanti sebelum aku pulang, akan buanyaaakkk pesan dari istrimu yang cerewet ini 😀

kamis, 26 Januari 2012

Antara Kebutuhan, Keinginan dan Kondisi

Yah, masalah klasik dan akan terus dihadapai oleh ibu rumah tangga adalah menyelaraskan antara kebutuhan, keinginan dan kondisi (Baca: kondisi dompet :P). Apalagi bagi pasangan baru seperti kami, yang masih harus banyak belajar mengatur keuangan rumah tangga.

HPL masih lumayan lama… tapi list kebutuhan (dan tentu saja: keinginan) sudah panjang. Tapi, seiring waktu yang terus berjalan, yang ada justru kebingungan. Mana kebutuhan yang harus didahulukan.

Kulkas dan Mesin Cuci
Keinginan yang sudah terpendam sejak lama untuk membeli Kulkas dan Mesin cuci, kini berubah menjadi kebutuhan yang cukup mendesak. Jika dahulu aku menahan diri untuk tidak membeli dalam rangka untuk melatih diri agar menjadi Istri rumah tangga yang lebih mandiri dan tidak manja dengan berbagai fasilitas elektronik, tapi kini kebutuhan untuk membeli kulkas dan mesin cuci itu terhambat dengan masalah tempat.

Kondisi kontrakan kami yang hanya berukuran 2,5 m x 11 m (maklum, rumah petak :P).. rasanya sama sekali tidak memungkinkan untuk membeli kulkas dan mesin cuci. The question is: Mau ditaruh di mana kulkas dan mesin cucinya??? hiks hiks.

Saat ini kontrakan kami sudah cukup penuh dengan barang-barang. Itu pun sudah diatur sedemikian rupa, agar kontrakan tetap terlihat agak luas.

Padahal, setelah melahirkan nanti, rasanya adanya kulkas dan mesin cuci akan sangat membantu pekerjaan. Karena sejak awal menikah, kami sudah berkomitmen untuk menerapkan pola masak dan pola makan sehat, sedangkan jika nanti sudah ada baby, rasanya kok agak sulit ya kalau harus belanja setiap hari. Dan sebenarnya masalah utama bukan di situ, tapi lebih ke variasi makanan. Sayur dan bahan mentah lauk yang dijual pendagang sayur di sekeliling kontrakan sangat terbatas. Itu menjadikan masakanku jadi kurang bervariasi. Belum lagi, sering kali kudapati ayam dan ikan-ikan yang dijual kurang segar. Kadang terpikir, enak sekali kalau bisa belanja di Pasar Minggu. Tak hanya lebih murah, tapi juga lebih segar.. dan tentu saja praktis! Bisa sekaligus beli banyak untuk persediaan minimal seminggu. Variasi masakan pun insyaAlloh akan lebih beragam (yang akan berujung pada nilai gizi yang lebih lengkap). Tapi permasalahannya selama ini adalah kami belum mempunyai kulkas, sehingga jika membeli sekaligus banyak, justru akan mubadzir (karena jika membeli eceran di Pasar Minggu, justru malah rugi. Karena harganya hanya selisih sedikit dengan tukang sayur keliling).

Ditambah pertimbangan bahwa kami akan butuh kulkas untuk tempat penyimpanan ASIP. Ini alasan terkuat kenapa akhir-akhir ini aku begitu ingin membeli kulkas.

Mesin Cuci.. sebenarnya masih ga terlalu urgent ya. Karena aku sendiri berharap, kalau setelah melahirkan nanti aku masih harus “terpaksa” mencuci pakai tangan, maka aku kan cepet langsingnya (hohoooo ^^). Aku pengen mesin cuci, hanya karena fungsi mesin pengeringnya itu lho, hehe. Ketika Jakarta berhari-hari hujan, sangat terasa repotnya ketika baju jemuran beberapa hari dijemur baru kering. Duh, kok ga kebayang ya kalau nanti bajunya dedek ga cepet kering…

Akhirnya, keinginan lama yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini pun kami tunda sementara. Minimal sampai kami mendapat kontrakan baru… yang aku berharap,,, sangat, semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih baik dari sekarang. Minimal sama-lah luasnya dengan kontrakan kami yang pertama, hehe.

HP Baru

Sebenarnya ini kebutuhan yang baru muncul. Kok passs banget, qodarulloh. Baik HP-ku dan HP suamiku butuh untuk dilembiru. Dilempar trus beli baru, hehe. Permasalahannya sama, HP kami sering mati mendadak, karena batere yang sudah drop. Masih ditambah kemasan luar yang sudah tak laya’ dilihat 😛

Kebutuhan untuk beli HP baru sebenarnya sudah cukup lama. Tapi keinginan yang belum ada. Aku dan suami, sama-sama tipe yang melihat HP dari fungsinya. Yang penting bisa buat sms dan telp, it’s enough. ga perlu apliaksi macam-macam. Ga perlu model terbaru. Ga perlu smartphone. Asal pekerjaan masih lancar-lancar saja, it’s okaylah.

Agak malu sebenarnya, ketika ada acara kantor suami. Bertemu dengan rekan-rekan kerjanya, juga keluarga mereka. Wedeeww, semuanya pakai HP smartphone yang keren-keren, mahal, plus keluaran terbaru. Kami? masih berusaha Pede, meski ya terkadang sembunyi-sembunyi kalau mau pakai HP di dekat mereka, hehe.

Tapi, kata “butuh” menjadi muncul. Saat kami dapati bahwa HP kami memang fungsinya sudah sangat menurun. Ditambah, kami perlu beberapa aplikasi dan memori yang lebih besar untuk memperlancar pekerjaan. Dan sebuah lasan terakhir yang cukup manis (:D), kami ingin membuat dokumentasi perkembangan buah hati.

Untuk alasan satu itu (dokumentasi perkembangan buah hati), awalnya suami ingin beli webcam saja. Kenapa bukan kamera digital? karena suami ingin keluar dari khilaf masalah foto. Terlebih, melihat video tampaknya lebih menarik, dekskriptif dan “hidup”. Tapi ketika survey harga webcam…. wow! Dalam hati langsung terpikir, Ah, mending uangnya ditabung buat mbangun rumah aja.

So, keinginan beli webcam pun dicoret tebballl… diganti dengan HP yang bisa sekaligus untuk dokumentasi.

Biaya kelahiran dan Perlengkapan Baby

Alhamdulillah, nikmatnya jadi anak bungsu, hihi. Kami jadi tidak terlalu memusingkan kebutuhan yang satu ini. Alhamdulillah, perlengkapan bayi milik sepupu-sepupunya dedek banyak dan masih cukup bagus. Jadi, kami disuruh untuk memanfaatkan, bahkan dilarang keras untuk beli perlengkapan bayi yang baru. Kalaupun beli, yang kurang-kurang aja. InsyaAllah ga membutuhkan dana yang terlalu besar. Terlebih, ibu kan penjual baju dan perlengkapan bayi. Ntar tinggal masuk toko-nya ibu aja,, trus minta harga grosir deh, qiqiqiqiqi… alhamdulillah ^^

Biaya untuk melahirkan juga alhamdulillah sudah dipikirkan jauh-jauh hari, sejak tahu kalau lagi hamil. Karena ini kebutuhan vital,, yang dananya ga boleh diganggu gugaaat oleh kebutuhan yang lain.

Antara Kebutuhan, Keinginan, Kondisi… serta Bakat Belanja

List kebutuhan sudah ada, bahkan panjaang. Keinginan juga ada. Nah, ternyata masalah utama kami bukan pada kondisi, tapi pada Bakat Belanja!! Haha.

Begitulah saudara-saudara. Setahun 2 bulan usia pernikahan kami, satu lagi kesamaan yang ku temukan. Bahwa kami ini sama sekali tak berbakat belanja, hehe.

Teringat.. sepatu kantor suami yang seharusnya segeran diganti dengan yang lebih pantas. Teringat, bahwa suami membutuhkan lebih banyak celana panjang dan kemeja untuk kerja (karena yang dimiliki masih sedikit sekali, ngepas dengan jadwal mencuci dan menjemur, hehe). Teringat, bahwa suami baru punya 1 kemeja batik lengan panjang (padahal sering sekali ada acara kantor yang mengharuskan pakai kemeja batik lengan panjang). Teringat, bahwa aku sebenarnya juga butuh sandal yang lebih laya’. Teringat, bahwa aku juga butuh beberapa stel baju baru yang lebih laya’ dipakai jika ada acara kantor suami. Teringat, mantel bentuk pakaian yang sangat urgent untuk dimiliki suami (tahu sendiri kan,, baru musim hujan deras plus angin. Ditambah kondisi lalu lintas jakarta yang awut-awutan).  Teringat, suami butuh koper ukuran sedang agar lebih praktis.

Teringat….. aah, banyak sekali kebutuhan yang belum terbeli gara-gara kami ga punya bakat belanja 😛

Ga tahu ya. Kami ini sama-sama terlalu banyak pertimbangan dalam membeli sesuatu. Bahkan sesuatu yang urgent sekali pun. Kami ini, sama-sama ga suka mall, toko, maupun pusta perbelanjaan lain. Ga betah lah. satu-satunya pusat perbelanjaan yang kami sukai hanyalah pasar tradisional 😀

Payah sebenarnya. Karena bagaimana pun, bakat belanja itu “penting”. Karena, yang namanya kebutuhan kan emang harus dipenuhi, apalagi kebutuhan yang vital dan urgent.

Suamiku memang tipe yang sederhana plus ngiritan. Tipe yang ga nyaman jika memakai barang yang agak mahalan dikit. beliau juga berotak bisnis, beliau lebih banyak berpikir untuk bagaimana memutar uang, menghasilkan uang, daripada sekadar untuk belanja hal-hal yang menurut beliau, kita masih bisa cari barang bagus dengan harga yang lebih murah (padahal nanti lamaaa banget dapetnya, heuu heuuu).

Sedangkan aku adalah anak pedagang, yang banyak tahu harga kulakan berbagai macam barang. Jadi kalau mau beli sesuatu, selalu terpikir “Ah, kan harga kulakannya cuma segini 😛

So, agak ragu-ragu sebenarnya.. apakah nanti list di atas akan jadi terbeli. Ataukah tertunda lagi seperti yang dulu-dulu. Wait and see….

Yang jelas, meski sama-sama ga punya bakat belanja.. untungnya kami sama dalam hal lain. Bahwa Pendidikan dan Kesehatan itu Penting. Dan memang harganya mahal. Jadi, ga ada kata ngirit untuk hal itu. Kami harus memberikan yang terbaik jika sudah menyangkut keluarga. Apalagi demi buah hati tercinta… ^__^

Mertua.. Orangtua Kita Juga…

Seandainya hutang jasa qta pd Mertua hanyalah krn mrk adlh org yg b’jasa m’besarkan & m’didik suami qta shg sprt skrg..
Tentu itu sdh mjd alasan kuat bg qta agar b’skp hormat & baik pd Mertua, sprt kpd ortu sendiri..

Tp tyt.. Mrk lebih dr skedar Mertua. Mrk adlh org yg bgitu baik.. Yg m’perlakukan & m’nyayangi qta sprt pd anak mrk sndiri..
Yg kbaikan & pngorbanan mrk bgitu besar utk qta menantunya..

Maka, birrul walidain.. Bukan hanya pd Ortu qta, tp jg Mertua yg mjd Ortu qta jg sjk qta m’nikah dgn anaknya..

~siap-siap menyambut kedatangn Simbok ♥ ♥ ♥ ~

The Best Husband I Ever HAd

Rasanya gimanaa gitu nulis judul di atas. Lha, emang saya punya berapa suami?? Hihi.. of course saya cuma punya 1 suami. Dan saya berharap, beliaulah suami pertama dan terakhir… Juga berharap, saya kan mendampinginya di Jannah-Nya kelak. Aamiin….

Sedikit kisah tadi malam..

Seperti biasa, saat senggang. Bercengkrama berdua. Tiba-tiba suami bertanya, “Mmm, dek. Coba dipikir-pikir, selama Mas jadi suami adek, apa ada yang kurang/cacat pada diri Mas sebagai suami?”

Heh?! Dahi saya langsung berkerut. Tapi kemudian langsung membalas dengan santai.

“Ada Mas! Fulus-nya kurang!!” Kataku sambil memperagakan isyarat dengan tangan.

Suami langsung tertawa lepas, “Haduuh.. Bukan itu! Kalau masalah fulus mah gampang. Kalau beneran kurang, bulan depan tinggal Mas tambah.. Heheee”

Haha.. kini giliranku yang tertawa. Ga lah… kan tadi cuma bercando sajooo 😛

“Ayo dooong dek! Dipikir benar-benar… ” Ucap suami dengan wajah penuh harap.

Hmm.. apa ya???? Saya benar-benar berpikir keras. Sel-sel memori kupaksa mengingat, adakah cela pada diri suamiku?

Ayo dong dek. Ga mungkin ga ada. Tinggal ingat-ingat aja dari Mas bangun tidur sampai Mas tidur lagi..

Haduuh, apa coba? Lha kalau emang ga ada yang menurutku kurang, masa’ harus memaksakan diri menjawab? Lagian, Mas aneh deh, perasaan dah sering banget tanya pertanyaan seperti ini. Kalau diingat-ingat, per 3 bulan Mas tanya hal seperti ini 😀

Dek?

Ahaaa! Teringat kebiasaan buruk suami yang kadang bikin saya jengkel setengah hidup 😛

Saya sebutkan 2 kebiasaan buruk suami yang saya tidak suka. Suami manggut-manggut sambil tersenyum. Hm.. dalam hati saya merasa, bahwa saya masih terlalu memaksakan diri menjawab itu.

“Lalu dek… kalau Mas sebagai menantu, juga anggota keluarga di keluarga adek, adakah yang kurang?

Haduuh, pertanyaan apa pula ini? Makin bingung saya –a

Ya. Kebingungan saya bukan berarti saya tak punya jawaban. Bukan berarti suamiku adalah suami tanpa cela. Tidak! Hanya saja.. saya merasa bahwa segala kebaikan suami, sudah sanggup menutup segala kekurangannya. Segala kekurangannya pun, sejauh ini adalah kekurangan-kekurangan kecil, yang masih bisa saya tolerir. Kekurangan yang belum ada apa-apanya dibanding kekurangan-kekuranganku yag banyaak sebagai istri.

Bagaimana saya bisa bilang ada yang kurang, sedangkan selama ini saya lihat suami sudah berusaha memenuhi segala kewajibannya sebagai suami dan berusaha memenuhi hak-hak saya sebagai istri.

Apa yang kurang, sedangkan suami berusaha berakhlaq semulia mungkin sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Yah, bukan berarti saya tidak pernah menangis karena tersinggung dengan perkataan atau sikap suami. Tapi, setiap saya menangis atau marah, suami akan segera menyadari kesalahannya dan berusaha dengan segenap cara membuat saya tersenyum lagi. Dan saat itu, saya menjadi merasa, saya-lah yang terlalu kekanak-kanakan.. dan bukan suami yang salah.

Suamiku… engkau adalah nikmat istimewa dari Rabb-ku..

Jawaban atas segala doaku di penghujung malam.. di antara adzan dan iqomat.. di saat puasa dan hujan..
Engkau jawaban atas doaku, di saat aku mengadu pada Rabb-ku.. di saat aku sedih dan merasa lemah..

Engkaulah.. yang dahulu kuperjuangkan sedemikian rupa di hadapan orangtua dan keluargaku. Bukan karena aku terlanjur suka.. karena aku hanya sedikit sekali mengenalmu ketika itu. Hanya berbekal biodata dan sekilas info dari orang terdekatmu.  Ku perjuangkanmu.. karena saat itu aku sudah begitu lelah.. setelah penolakan demi peolakan saat kusodorkan satu persatu nama ikhwan… saat itu, adalah titik puncakku! Aku tak tahu tagi, masihkah aku punya semangat untuk berjuang agar bisa menikah dengan seorang ikhwan bermanhaj salaf,, jika engkau pun ditolak. Sedangkan menurutku, engkaulah ikhwan yang paling mendekati kriteria orangtuaku (aku ingat, bahkan dulu pun ada beberapa orang yang mempertanyakan, kenapa aku lebih memilihmu,, bukan ikhwan A, yang kemampuan bahasa arabnya sudah mahir. Bukan ikhwan B, yang hafalannya banyak. Bukan ikhwan C yang pintar ilmu diennya. Kenapa aku menolak ikhwan D, E, dll…. Ah! Biarlah Allah saja yang tahu alasannya). Lagipula, engkaulah ikhwan pertama yang ta’aruf denganku, dan kau sungguh berharap, hanya perlu satu kali ta’aruf.

Tapi kini, suamiku.. aku bersyukur bahwa aku dulu begitu memperjuangkanmu. Dan aku juga bersyukur, bahwa dulu engkau pun bertahan sedemikian rupa meski menghadapi berbagai ujian dari keluargaku.

Engkau yang dahulu hampir ditolak, kini menjelma menjadi menantu kesayangan, bahkan “anak laki-laki kecintaan”.
Dulu, aku tertunduk malu jika ditanya tentangmu.. tapi kini aku bisa berkata dengan bangga, “Aku tak salah kan memilihnya menjadi suamiku”

Suamiku, engkau lebih dari cukup bagiku. Bagaimana tidak.. Bukankah sebuah nikmat luar biasa mendapatkan suami yang benar-benar meletakkan seorang istri sesuai fitrahnya sebagai seorag wanita, yaitu menjadikan rumah kita sebagai istanaku. Engkau yang sanggup menarik simpati orangtuaku, sehingga membiarkanku tetap di istana kita, menjadi seorang istri sepenuhnya, buakn sebagai wanita karir. Engkau mewujudkannya segala idealisme kita, bahwa seorang istri laya’nya benar-benar berperan sebagai istri & ibu. Dan engkau, mewujudkannya dengan cara yag apik… denga lembut dan hikmah. Engkau tahu suamiku, tak semua ikhwan bermanhaj salaf bisa melakukannya?!

Engkau memberikan gambaran seutuhnya pada keluarga besarku, tentag bagaimana seharusnya seorang suami. Suami yang baik, yang memenuhi tanggungjawabnya memberi nafkah keluarganya. Yang tak hanya itu, tapi juga suami yang ringan tangan, membantu dan bekerjasama melakukan segala pekerjaan rumahtangga. Yang begitu lembut akhlaqnya.. juga memikat keramahannya. Engkau membuat keluargaku membuka mata, begini seharusnya seorang suami.

Suamiku, oranglain akan bilang aku berlebihan menilaimu. Tapi aku tak peduli. Karena mereka tak benar-benar tahu kondisinya. Mereka tak benar-benar tahu tentangku dan tentangmu. Mereka tak benar-benar tahu tentang keluarga kecil kita.

Aku hanya ingin menulis ini.. agar selalu teringat. Dan menjadi catatan indah bagi pelayaran biduk kita.

Berharap.. engkau kan selalu seperti ini. Suami yang membuatku selalu merasa bersyukur karena menjadi istrimu. Karena mengandung anak-anakmu. Suami yang membuatku merasa masih menjadi istri paling kurang di dunia, karena kebaikan-kebaikanmu yang begitu banyak.

And… you are the best husband I ever had…

Alhamdulillahilladzi bi ni’matih tatimmush sholihat

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah

Penulis: Ummu Rumman
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman

Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.
Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)

Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.

Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.

Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?

Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.

Kaidah Birrul Walidain

Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.

Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:

1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam

Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.

Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)

Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.

2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam

Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.

3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya

Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.

Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.

Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.

Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)

Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.

Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun –bi idznillah– akhirnya ridha kepada kita.

Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan

Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”

Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.

Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.

Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.

Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.

Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.

Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…

Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?

Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (Qs. At Tahrim 6)

Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?

Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.

Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.

Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.

Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.

Landasi Semuanya Dengan Ilmu

Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.

Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.

Karena itu, wahai saudariku…
Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia
Tegar dan sabarlah!
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah

Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.

Maraaji’:

  1. Durhaka kepada orang Tua oleh ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, majalah Al Furqon edisi 2 Tahun IV
  2. 14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah, Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
  3. Kajian Bahjah Qulub Al Abror oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, tanggal 4 November 2007

***

Artikel www.muslimah.or.id

The Golden Time: Saat Suami Pulang Kerja

Jakarta di saat petang. Setelah derasnya hujan sore hari.Spontan saya menghela nafas saat melihat ke arah jarum jam. Jam menunjukkan pukul 18.40 WIB. Agaknya suami bakalan pulang telat lagi. Dan benar, tak berapa lama kemudian HP berbunyi. Sms dari suami, beliau memberitahukan bahwa beliau baru saja keluar kantor dan akan pulang terlambat. Dan seperti biasa, saya hanya bisa tersenyum simpul dan membalas sms suami, memintanya untuk berhati-hati di jalan.

 

Sekali lagi saya melihat ke arah jarum jam. Jika jam segini suami baru keluar kantor, berarti baru akan sampai rumah ketika jarum jam mendekati angka 9. Semoga Allah menjagamu, duhai suamiku.

Sudah hal yang biasa jika tiba-tiba suami mengabari akan pulang malam (Pulang jam 9 malam, belum teralalu larut untuk ukuran Jakarta). Entah karena memang lembur kerja, ada urusan, atau alasan-alasan klasik ala Jakarta yang lain. Mulai dari macet parah, sulit mendapat transportasi karena ada demonstrasi, dll.

golden time suami pulang kerja 217x300 The Golden Time: Saat Suami Pulang Kerja
Dan di saat-saat menanti suami pulang kerja, saya seakan-akan selalu diingatkan dengan pesan seorang sahabat,

“Saat suami pulang kerja, itu adalah Golden Time pelayanan seorang istri. Golden Time yang benar-benar tak boleh terlewatkan, apalagi dilalaikan oleh seorang istri. Dan salah satu cara meraih cinta suami adalah memberikan pelayanan terbaik di saat Suami pulang kerja.”

Bagaimana tidak, di saat suami pulang kerja, saat itu terkumpul padanya rasa lelah lahir dan batin. Lelah secara lahir, karena seharian bekerja mencari nafkah demi keluarga. Lelah secara batin, karena seharian berusaha mencari nafkah yang halal lagi thoyyib. Belum lagi dengan godaan harta dunia dan wanita yang menyambar-nyambar di luar sana.

Saat suami pulang ke rumah, tentu ia mengharapkan bisa melepas lelah. Ia mengharapkan kesejukan dan kelembutan pelayanan seorang istri. Dan di saat seperti ini, pelayanan maksimal seorang istri, bagaikan kesejukan mata air setelah lelah berjalan di gurun pasir dunia yang sangat panas.

Apakah perumpamaan itu berlebihan? Saya pikir tidak.

Terbayang.. Pagi-pagi buta, suami sudah harus berangkat ke kantor agar tidak terlambat. Macet, bukanlah alasan yang cukup bisa diterima untuk masuk kantor terlambat. Karena begitulah adanya kondisi Ibukota. Yah, suamiku masih lebih enak, masih bisa sholat berjama’ah di masjid dekat rumah. Bandingkan dengan suami-suami yang lain, yang bahkan mengerjakan sholat shubuh di masjid tempat kerja mereka. Meski saya harus menyiapkan keperluan dan bekal suami sebelum shubuh, pengorbanan saya itu pun masih belum bisa mengalahkan berantnya perjuangan suami ketika perjalanan berangkat kantor.

Seharian bekerja, pulang sore bahkan malam. Tentu sudah sangat lelah. Masih ditambah perjalanan pulang ke rumah, yang lebih menguras tenaga dan emosi. Berdiri antri busway berjam-jam, berdesakan, macet, belum lagi saat mendengar luapan emosi para pekerja lain yang sama lelahnya ketika menanti transportasi umum. Jakarta ooh Jakarta….

Teringat pula bagaimana didikan ibu dahulu, bahkan sejak saya masih belum baligh. Jika sudah mendekati jam pulang Bapak, Ibu akan buru-buru menyuruh saya membuatkan teh atau kopi hangat. Dan menyiapkan cemilan ringan kesukaan bapak. Meski hanya sekedar singkong atau ketela rebus. Bukan hanya kepada Bapak, tetapi juga kepada Kakak laki-laki saya.

Hanya pesan-pesan singkat yang diberikan ibu,

“Itu Bapak nanti pasti haus dan cari-cari minum, cepetan buatkan Teh! Jangan lupa singkongnya disiapkan di meja makan”

“Itu masmu pasti lelah dan lapar seharian kuliah, sana keluar belikan makanan! Orang kalau lapar, gampang marah..”

Saya pikir, seluruh perintah Ibu bukan tanpa dasar atau hanya sekedar mengalihkan tugas sehingga pekerjaannya menjadi lebih ringan. Tetapi hendak melatih dan membiasakan anak perempuannya agar jika kelak sudah berumahtangga, harus siap segera memberikan pelayanan terbaik saat suami pulang kerja. Jazaakillahu khoiron, Ibu..

Ya, mungkin ini adalah salah satu alasan kuat saya untuk tetap tinggal di rumah! Karena yang suami saya butuhkan bukanlah istri yang sama-sama dalam kondisi lelah bekerja, sehingga saat suami pulang kerja, bukannya mendapat pelayanan yang baik, tapi justru dalam keadaan sama-sama lelah dan emosi.

Yang suami saya butuhkan, adalah istri yang saat beliau pulang, paling tidak dalam kondisi fresh dan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepadanya. Yang mendengarkan segala keluhannya tentang carut-marut Ibukota sambil memijat badannya yang lelah. Bukan istri yang sama-sama mengeluh tentang beban kerja yang begitu tinggi.

Mungkin di antara para pembaca, ada yang kondisinya lebih baik daripada kami. Atau malah suaminya pulang lebih larut malam bahkan pagi!

Apapun kondisinya, seorang suami berhak mendapatkan pelayanan terbaik saat ia pulang dari mencari nafkah.
Jangan remehkan meski hanya sekedar menyiapkan minuman pelepas dahaga dan makanan ringan pengganjal perut. Jangan remehkan pula seuntai senyum manis penuh kelegaan melihat suami selamat sampai di rumah. Jangan remehkan penampilan sederhana namun menarik, yang mampu meredam gejolak suami dari dahsyatnya godaan di luar sana.

Usaha dan pengorbanan kita saat mempersiapkan Golden Time yang terbaik bagi suami kita, masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan usaha dan pengorbanan para suami dalam mencari nafkah yang halal bagi istri dan anak-anaknya.

Jakarta, 16 November 2011.
Seorang istri yang masih berusaha menciptakan kesejukan yang sederhana di gubuk mungilnya,  di tengah hiruk-pikuk dan hingar-bingar Ibukota

**
Tulisanku yang dimuat di http://ummiummi.com/the-golden-time-saat-suami-pulang-kerja