Arsip

The Golden Time: Saat Suami Pulang Kerja

Jakarta di saat petang. Setelah derasnya hujan sore hari.Spontan saya menghela nafas saat melihat ke arah jarum jam. Jam menunjukkan pukul 18.40 WIB. Agaknya suami bakalan pulang telat lagi. Dan benar, tak berapa lama kemudian HP berbunyi. Sms dari suami, beliau memberitahukan bahwa beliau baru saja keluar kantor dan akan pulang terlambat. Dan seperti biasa, saya hanya bisa tersenyum simpul dan membalas sms suami, memintanya untuk berhati-hati di jalan.

 

Sekali lagi saya melihat ke arah jarum jam. Jika jam segini suami baru keluar kantor, berarti baru akan sampai rumah ketika jarum jam mendekati angka 9. Semoga Allah menjagamu, duhai suamiku.

Sudah hal yang biasa jika tiba-tiba suami mengabari akan pulang malam (Pulang jam 9 malam, belum teralalu larut untuk ukuran Jakarta). Entah karena memang lembur kerja, ada urusan, atau alasan-alasan klasik ala Jakarta yang lain. Mulai dari macet parah, sulit mendapat transportasi karena ada demonstrasi, dll.

golden time suami pulang kerja 217x300 The Golden Time: Saat Suami Pulang Kerja
Dan di saat-saat menanti suami pulang kerja, saya seakan-akan selalu diingatkan dengan pesan seorang sahabat,

“Saat suami pulang kerja, itu adalah Golden Time pelayanan seorang istri. Golden Time yang benar-benar tak boleh terlewatkan, apalagi dilalaikan oleh seorang istri. Dan salah satu cara meraih cinta suami adalah memberikan pelayanan terbaik di saat Suami pulang kerja.”

Bagaimana tidak, di saat suami pulang kerja, saat itu terkumpul padanya rasa lelah lahir dan batin. Lelah secara lahir, karena seharian bekerja mencari nafkah demi keluarga. Lelah secara batin, karena seharian berusaha mencari nafkah yang halal lagi thoyyib. Belum lagi dengan godaan harta dunia dan wanita yang menyambar-nyambar di luar sana.

Saat suami pulang ke rumah, tentu ia mengharapkan bisa melepas lelah. Ia mengharapkan kesejukan dan kelembutan pelayanan seorang istri. Dan di saat seperti ini, pelayanan maksimal seorang istri, bagaikan kesejukan mata air setelah lelah berjalan di gurun pasir dunia yang sangat panas.

Apakah perumpamaan itu berlebihan? Saya pikir tidak.

Terbayang.. Pagi-pagi buta, suami sudah harus berangkat ke kantor agar tidak terlambat. Macet, bukanlah alasan yang cukup bisa diterima untuk masuk kantor terlambat. Karena begitulah adanya kondisi Ibukota. Yah, suamiku masih lebih enak, masih bisa sholat berjama’ah di masjid dekat rumah. Bandingkan dengan suami-suami yang lain, yang bahkan mengerjakan sholat shubuh di masjid tempat kerja mereka. Meski saya harus menyiapkan keperluan dan bekal suami sebelum shubuh, pengorbanan saya itu pun masih belum bisa mengalahkan berantnya perjuangan suami ketika perjalanan berangkat kantor.

Seharian bekerja, pulang sore bahkan malam. Tentu sudah sangat lelah. Masih ditambah perjalanan pulang ke rumah, yang lebih menguras tenaga dan emosi. Berdiri antri busway berjam-jam, berdesakan, macet, belum lagi saat mendengar luapan emosi para pekerja lain yang sama lelahnya ketika menanti transportasi umum. Jakarta ooh Jakarta….

Teringat pula bagaimana didikan ibu dahulu, bahkan sejak saya masih belum baligh. Jika sudah mendekati jam pulang Bapak, Ibu akan buru-buru menyuruh saya membuatkan teh atau kopi hangat. Dan menyiapkan cemilan ringan kesukaan bapak. Meski hanya sekedar singkong atau ketela rebus. Bukan hanya kepada Bapak, tetapi juga kepada Kakak laki-laki saya.

Hanya pesan-pesan singkat yang diberikan ibu,

“Itu Bapak nanti pasti haus dan cari-cari minum, cepetan buatkan Teh! Jangan lupa singkongnya disiapkan di meja makan”

“Itu masmu pasti lelah dan lapar seharian kuliah, sana keluar belikan makanan! Orang kalau lapar, gampang marah..”

Saya pikir, seluruh perintah Ibu bukan tanpa dasar atau hanya sekedar mengalihkan tugas sehingga pekerjaannya menjadi lebih ringan. Tetapi hendak melatih dan membiasakan anak perempuannya agar jika kelak sudah berumahtangga, harus siap segera memberikan pelayanan terbaik saat suami pulang kerja. Jazaakillahu khoiron, Ibu..

Ya, mungkin ini adalah salah satu alasan kuat saya untuk tetap tinggal di rumah! Karena yang suami saya butuhkan bukanlah istri yang sama-sama dalam kondisi lelah bekerja, sehingga saat suami pulang kerja, bukannya mendapat pelayanan yang baik, tapi justru dalam keadaan sama-sama lelah dan emosi.

Yang suami saya butuhkan, adalah istri yang saat beliau pulang, paling tidak dalam kondisi fresh dan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepadanya. Yang mendengarkan segala keluhannya tentang carut-marut Ibukota sambil memijat badannya yang lelah. Bukan istri yang sama-sama mengeluh tentang beban kerja yang begitu tinggi.

Mungkin di antara para pembaca, ada yang kondisinya lebih baik daripada kami. Atau malah suaminya pulang lebih larut malam bahkan pagi!

Apapun kondisinya, seorang suami berhak mendapatkan pelayanan terbaik saat ia pulang dari mencari nafkah.
Jangan remehkan meski hanya sekedar menyiapkan minuman pelepas dahaga dan makanan ringan pengganjal perut. Jangan remehkan pula seuntai senyum manis penuh kelegaan melihat suami selamat sampai di rumah. Jangan remehkan penampilan sederhana namun menarik, yang mampu meredam gejolak suami dari dahsyatnya godaan di luar sana.

Usaha dan pengorbanan kita saat mempersiapkan Golden Time yang terbaik bagi suami kita, masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan usaha dan pengorbanan para suami dalam mencari nafkah yang halal bagi istri dan anak-anaknya.

Jakarta, 16 November 2011.
Seorang istri yang masih berusaha menciptakan kesejukan yang sederhana di gubuk mungilnya,  di tengah hiruk-pikuk dan hingar-bingar Ibukota

**
Tulisanku yang dimuat di http://ummiummi.com/the-golden-time-saat-suami-pulang-kerja

Iklan

Tips Memasak 2: Yukz, Bersahabat dengan Garam

Masak sayur tanpa garam? Fuuuf, hambar! Kurang enak rasanya. Tapi, garam kan kurang bersahabat dg tubuh. Tingginya supan garam dapat meningkatkan resiko terkenanya tekanan darah tinggi. Belum lagi ginjal yang harus bekerja keras akibat membuang kelebihan sodium.

Garam mengandung unsur Natrium (sodium) dan Khlor (NaCl). Sodium inilah yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengatur keseimbangan cairan tubuh dan kinerja transmisi syaraf dan otot. Unsur ini sebenarnya sudah bisa kita dapat dari bahan makanan lain seperti daging, ikan hingga keju. Namun, bagi kebanyakan orang Indonesia, rasanya kurang menggigit jika sodium tidak bertemu khlor. Artinya, tetap saja kita lebih suka menggunakan garam.

Anjuran mengonsumsi garam per hari sekitar 2.300 mg atau sekitar setara 1 sendok teh. Namun, siapa tahu jumlah garam yang terdapat pada makanan yang kita makan??

Tapi, apakah kita sampai perlu benar2 menghilangkan garam dari masakan kita? Bagaimanapun garam memiliki beberapa manfaat, antara lain: memberi rasa asin pd masakan, memberi efek rasa gurih pada masakan bercita rasa manis atau kue, memaksimalkan kerja ragi pada pembuatan roti, membuat putih telur kocok cepat kaku dan tahan lama karena garam membantu proses protein pada telur cepat mengembang, menguatkan cita rasa sayuran, di samping menjaga kandungan mineral sayur tidak larut dalam air. Serta untuk mengawetkan makanan.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bisa bersahabat dg garam. Bagaimana caranya? Simak deh tips2 berikut:

1. Sayur dan sup KALENGAN, daging olahan, dan aneka makanan berpengawet cenderung mengandung sodium yang tinggi. Karena itu lebih baik MEMILIH bahan MAKANAN dalam kondisi SEGAR.

2. BATASI KONSUMSI bahan makanan kemasan berpengawet. Seperti sosis atau daging asap. Juga makanan yang diawetkan dalam garam/ cuka seperti acar. Atau bumbu kemasan kecap atau saus tomat. Jika anda penyuka ikan asin, tak ada salahnya mengurangi frekuensinya dalam hidangan harian keluarga.

3. PILIHLAH MAKANAN yang mencantumkan ”reduced sodium” atau ”lower sodium” pada kemasannya. Sayur dan sup kalengan biasanya menyediakan versi rendah sodium. Begitu pula aneka kreker yang memberi pilihan rendah garam dan variasi lain yang lebih sehat.

4. Dalam memilih snack pun, PERHATIKAN BERAPA KANDUNGAN SODIUM snack tersebut. Pilih snack yang kandungan sodiumnya rendah.

5. SAAT MEMASAK, cobalah hilangkan setengah bagian dari yang tercantum di resep anda. Dengan membiasakan hal ini, maka konsumsi garam akan berkurang dan lama-lama menjadi pola masak harian anda.

6. MASAKLAH DENGAN ANEKA REMPAH. Aroma dan rasanya akan mengurangi kebutuhan garam dalam masakan.

7. SINGKIRKAN GARAM meja di meja makan. Dengan demikian, anda tak punya alasan untuk menambahkan garam pada hidangan yang tersedia. (dan smoga anda tak terlalu rajin untuk sampai mengambil garam di dapur;p)

8. Jika saat anda memasak ternyata masakan anda terlalu asin, MASUKKAN SEPOTONG KENTANG ke dalam masakan yang sedang mendidih karena kentang menyerap asin.

Nah, jika anda sudah mengurangi asupan sodium, baik juga sambil MENINGKATKAN KONSUMSI POTASIUM. Jenis mineral ini baik bagi kesehatan jantung. Fungsinya antara lain membantu mengatur tekanan darah, menjaga kontraksi jantung, dan dapat mencegah stroke. Potasium banyak terdapat dalam sayur dan buah. Dan kebetulan, sayur dan buah mengandung sodium yang rendah. Jadi sunggguh klop untuk membantu anda bersahabat dengan garam.

# # Plus-plus: saya paling suka dg tips no 5 dan 6. Menurut saya, dua tips tersebut adalah tips yang paling efektif dan bermanfaat. Dua tips yang sebaiknya dikombinasikan. Karena, jika takaran garam dikurangi, biasanya cita rasa masakan jadi agak lemah. Maka, untuk mengakalinya adalah dengan memasak memakai aneka rempah. Atau, dengan mengotak-atik takaran dari rempah-rempah yg kita gunakan agar cita rasanya tetap selezat klo pake garam banyak. Nah, di sinilah kemampuan memasak kita diuji (Ceileee…). Soalnya, klo takaran rempah2nya ga pas, ntar cita rasa masakannya bisa jadi ”tak terdefinisikan” (sakiiing aneh rasanya;p)

Referensi:
1. Kamus Lengkap Bumbu Indonesia, Odilia Winneke dan Rinto Hapsari, Penerbit Gramedia, Jakarta 2001
2. Majalah Sedap, Paduan Cita rasa dan Seni Kuliner. Edisi 3/VIII/2007

Tips Memasak 1: Bagaimana Menghafal Resep

Masak itu susah. Gitu kata teman2 yg belum biasa memasak (t’masuk aku;p). Tapi sayang dunk klo kesempatan meraih pahala disia-siakan begitu saja.
Dg memasak bisa meraih pahala? iya dunk, insya Alloh. karena memasak makanan adalah salah satu wujud pelayanan seorang istri pada suami dan keluarga. Tak sekedar memasakkan makanan yang enak dan bergizi, tapi yang lebih penting lagi adalah memasak makanan yang halal.

Klo dah diiming-imingi pahala, biasanya temen2 jadi semangat latihan masak;) tapi, yg namanya kendala ada aja. Mulai dari ga tahu resepnya, ga mengerti tehnik memasak, ga tahu bahan, dll.

Mungkin banyak dr kita ngeluh,
”Aku dulu pernah masak sayur lodeh. Tapi sekarang dah lupa, bumbunya apa aja yach?”
”Masakan segitu banyaknya…. gimana caranya bisa hafal apa aja bumbunya? Masa’ iya, tiap mau masak harus buka buku resep dulu.”

Dua kendala di atas juga menimpa saya.
Awal memasak ketika dulu masih ngekoz, saya masih suka sms ibu untuk skedar tanya, “Bu, bumbu2nya sayur lodeh apa aja? Klo sambal terong? dll”
Pasalnya, meski udah cukup sering masak masakan tertentu, saya masih juga suka lupa.
Akhirnya, tiap tanya ibu, langsung saya catat. Biar klo kpn2 mw masak, ga perlu tanya ibu lagi. Tapi… itu kan berarti masih harus liat catatan? Para ibu itu, kok bisa sih hafal resep segitu banyaknya?

Wow!!! Ternyata ada tipsnya lho, gimana caranya ”menghafal” resep :

1. Kenalilah bumbu-bumbu dasar masakan

Klo diamati, berbagai macam masakan indonesia itu mempunyai pola bumbu dasar yang sama. Oleh karena itulah akhirnya kita mengenal 3 macam bumbu dasar. Bumbu dasar merah, bumbu dasar putih, dan bumbu dasar kuning. Nah, masing-masing bumbu dasar ini nantinya bisa menjadi berbagai macam masakan dengan ditambah beberapa bumbu tambahan.
Contohnya:
Bumbu dasar merah: bisa dibuat rica-rica ayam, kering kentang, telur bumbu Bali, rendang, pepes, masakan2 yang ada unsur sambal baladonya, dll.
Bumbu dasar putih: tahu tempe bacem, gudeg, terik daging, sayur bobor, sayur lodeh, dll.
Bumbu dasar kuning: ayam goreng, kari, pepes, nasi kuning, dll
Oya, ada lagi bumbu Tumis. Bumbu tumis ini bisa dipakai untuk berbagai macam masakan yang ditumis.
Nah, daripada susah2 ngapalin bumbu, kenali saja… masakan ini, bumbu dasarnya apa?? Kemudian yg mgkn agak butuh utk diingat2, bumbu tambahannya apa?

Memang, ada juga masakan yg ga masuk ke salah satu bumbu dasar. Tapi, klo kita amati, bagaimanapun tiap jenis masakan punya pola bumbu dasar tertentu. Bahkan ga cuma sayuran atau lauk pauk, tapi juga kue-kue atau roti, dll. Cukup kita tahu resep dasarnya apa… dan insya Alloh kita bisa membuat berbagai kreasi masakan/ kue/ roti/ kudapan.

NB: ttg macam2 bumbu dasar, silahkan cari sendiri di buku resep/ internet yach;p
<klo saya, lebih suka bikin racikan bumbu dasar sendiri (baik komponen bumbu2nya maupun takaran), sesuai resep2 yg udah saya punya. Jadi ga manut ma yg di buku2 resep. Krn lebih sesuai ma resep keluarga. Dan krn bikin sendiri, lebih mudah diingat >

2. Kenalilah karakteristik bumbu dan bahan

Karakter bumbu meliputi rasa, bau, tekstur, wujud, warna, dll. (temen2 farmasi, masih ingat praktikum organoleptik kita paz smstr2? Organoleptik obat tapinya;p temen2 di TPHP mungkin lebih ahli dlm masalah organoleptik makanan;) )
Kenali juga manfaatnya. Manfaat artinya: dengan rasa yang dimiliki sang bumbu, maka ia cocok untuk masakan apa.
Kemudian kenali penggunaannya. Penggunaan artinya: bagaimana cara menggunakan bumbu tersebut, sesuai dg masakan yg hendak dibuat. Misal: daun kunyit dibuat seperti tali simpul dulu dan dicabik-cabik sebelum dimasukkan ke dlm masakan agar aroma yg kluar sempurna. Bawang putih, untuk bumbu masakan X, lebih cocoknya diiris/ dihaluskan/ dimemarkan/ dicincang kasar??
Dengan cara penggunaan bumbu yg benar, maka rasa masakan pun makin lezaaaaat. Meski bumbu2nya udah benar, tapi digunakan dg cara yg salah, maka rasa masakan pun bisa jadi kacau balau.

Ibu pernah bilang, salah satu cara mudah mengingat bumbu adalah mencocokkan rasa masakan yang akan kita masak dengan bumbu yg kita pake.
Misal: mau masak sayur bening (bayam). Rasanya kan seger tuh. Kaya’nya lebih cocok pake kencur deh. Ga mungkin jahe. (soalnya saya dulu pernah hampir salah… pake jahe, hehe. Untung ketahuan ibu. Klo ga, gimana coba rasanya????).
Trus ibu njelasin, kencur itu cocoknya untuk masak ini, ini dan ini. Klo jahe, cocoknya untuk masak itu, itu, dan itu.

Dengan mengenali karakter bumbu (dan bahan), juga lebih memudahkan kita klo mau bikin masakan baru. Kreasi sendiri gitu;))

3. Sering Memasak

Weiiiits… Jawaban klasik. Tapi begitulah. Ini seperti menghafal, dg cara membaca berulang-ulang. Tanpa sadar, otak pun sudah membentuk memori di dalam dirinya.
Tapi tak melulu agar hafal, tapi lebih ke meningkatkan sensitifitas lidah dlm merasa, hidung dlm mencium aroma, mata dalam melihat wujud masakan, dll.

Oke, selamat m’masak… dan jangan lupa kirim2 hasil masakannya. Tapi yg dikirim ke aku yg enak-enak aja yach ;))