Salahkah Aku Menangis Hanya karena Air?!?!

Di antara semua keluhan ala ibu hamil, yang paling berat kurasakan adalah ketidakstabilan suasana hati. Entahlah, jadi serba sensi.

Mudah menangis… tapi juga mudah marah.. atas hal-hal yang begitu sepele!!!

Pikiranku jelas-jelas berkata padaku.. Kekanak-kanakan sekali, menangis dan marah hanya karena hal sepele. Tapi aku sendiri sering kali merasa kehilangan kontrol atas moodku sendiri T_T

Seperti hari ini, ketika untuk kesekian kalinya aku menangis cuma gara-gara air kran tidak mengalir!!

Konyol bukan?! Padahal, dulu semasa masih jadi anak kost selama bertahun-tahun, yang namanya air kos bermasalah, sehingga harus mengungsi mandi di kos-an teman juga ga masalah.

Yah, masalah air adalah masalah yang paling sering kuhadapi setelah pindah di kontrakan yang sekarang. Maklum, 1 pompa air digunakan bersama dengan kontrakan sebelah yang dihuni oleh beberapa ikhwan. Dan memang beginilah umumnya kondisi rumah petak ala Jakarta.

Masalahnya sebenarnya simple. Bahwa kami tidak memiliki tandon air, sehingga air hanya akan mengalir ketika pompa dinyalakan. Berarti, setiap kali menyalakan pompa, kami harus sekalian mengisi penuh bak mandi plus ember-ember yang kami punya, agar tak bolak-balik menyalakan pompa air.

Sayangnya, tombol untuk pompa air itu letaknya di depan rumah petak para ikhwan tersebut. Terus-terang, sungkan kalau mau menyalakan air.

Nah, ini dia permasalahan utamanya: bahwa jika kran di tempat kontrakan sebelah terbuka, maka air di kontrakan kami tidak akan mengalir. Setetes pun!!

Kondisiku rahimku yang semakin besar, membuatku sering bolak-balik kamar mandi. Belum lagi kondisiku yang sering lemah, sehingga agak ribet untuk bolak-balik menyalakan-mematikan pompa. Ember-ember yang kami miliki pun terbatas, sehingga harus kugunakan dengan cukup irit.. untuk mandi, kakus, masak, mencuci baju dan piring.

Agar tagihan listrik tak tinggi, biasanya kami hanya mengisi bak mandi saat air di kontrakan sudah benar-benar habis. Terkadang, saat itu-lah timbul masalah… penghuni kontrakan sebelah sering kali lupa menutup kran air di kontrakan mereka. Sehingga air tak kunjung mengalir di kontrakan kami meski pompa sudah dinyalakan. Yah, maklum, kontrakan sebelah memang dihuni oleh beberapa mahasiswa.

Jika di kontrakan sebelah sedang ada orang, tak masalah, kami tinggal minta tolong mereka untuk menutup kran airnya (tapi tetep ribet sebenarnya. Apalagi jika suami sedang kerja. AKu harus menghubungi suami dulu.. yang sering kali karena kesibukan kerja, telat membuka sms/tidak mengangkat telpku. Padahal air sudah benar-benar habis!!)

Yang jadi ribet adalah jika penghuni kontrakan sebelah sedang pergi atau pulang kampung semua. Maka, kami pun panik dan kelimpungan….

Teringat… ketika awal kami pindah ke sini… saat itu, awal perutku mulai membesar,, dan bisa puluhan kali dalam sehari aku bolak-balik ke kamar mandi. Dan permasalahan air itu pun muncul.. tiba-tiba saja air tidak dapat mengalir.

Sebenarnya kami sudah curiga sejak hari pertama pindah ke kontrakan ini. Ada yang tidak beres dengan airnya. Tahukah? hari pertama, kami terpaksa minta air dari tetangga sebelah. Dan saat permasalahan air itu kembali muncul.. yang saat itu, matinya air terjadi secara berkali-kali, saat aku sangat butuh air bersih… aku pun tak dapat menahan tangisku. Entahlah…. aku tak tahu mengapa jadi se-childish itu!

ALhamdulillah, untungnya suamiku sabar. Akhirnya beliau mengangkut air seember demi seember demi memenuhi bak mandi kami. Saat peristiwa ini terjadi, kami belum tahu bahwa permasalahan sebenarnya adalah gara-gara tetangga sebelah lupa menutup kran air di kontrakan mereka.

Alhamdulillah.. setelah diselidiki,, akhirnya ketahuan penyebab air sering tak mengalir di kontrakan kami. Alhamdulillah lagi,, bahwa sebenarnya tetangga kami adalah ikhwan-ikhwan yang baik akhlaqnya, Segera menyadari kesalahan mereka.. meski yaah, kadang masih juga kejadian mereka lupa menutup kran.. dan lagi-lagi, aku menangis!

Akhirnya kuputuskan untuk meminta suami, agar mencari kontrakan baru.. paling tidak,, setelah dedek lahir, kami sudah bisa pindah ke kontrakan yang lebih baik, yang lebih lancar aliran airnya. Sungguh tak terbayang, bagaimana jadinya dalam keadaan punya baby, tapi aliran airnya tak lancar begini.

Ya Allah, aku sendiri tak mengerti. Betapa childish-nya aku…

Sebenarnya aku betah di sini… meski kecil dan sederhana, kontrakan ini cukup nyaman dan aman. Tetangganya juga baik-baik.. tak seperti kontrakan lama, yang bahkan aku beberapa kali menangis karena setiap hari didzalimi tetangga, yang mereka bahkan tak kenal kami! Tapi mendzalimi kami hanya karena mereka benci dengan pemilik kontrakan kami!

Air.. bukankah itu adalah hal yang teramat penting!

Maafkan aku suami.. karena aku begitu childish… dan jazaakallohu khoiron,, engkau selalu sabar menghadapi kechilddish-anku….

Semoga kelak kita bisa mendapat kontrakan yang lebih baik… aamiin…

~Diriku yang sedang sensi.. dan ingin menulis tuk melegakan hati~

TABLIGH AKBAR SYAIKH ABDUR ROZZAQ DI ISTIQLAL

Alhamdulillaah, akhirnya yang dinanti datang juga.
Tapi qodarulloh, teteup tak bisa datang krn pertimbangan kesehatan plus sudah pulang kampung. InsyaALloh di Yogya juga ada (postingan menyusul), tapi teteeepp… ga bisa datang T_T

Sabar ya dedek.. Semoga tahun depan ada lagi, dan insyaALloh kita bisa berangkat bareng ke majelis ilmu.. taman surga…


Tabligh Akbar “Meniti Jalan Meraih Kecintaan Allah” di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

HADIRILAH TABLIGH AKBAR
Bersama

FADHILATUS SYAIKH ABDUR ROZZAQ
BIN ABDUL MUHSIN AL ABBAD AL BADR hafidzohumallah

Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah dan pengajar tetap di masjid Nabawi Madinah An Nabawiyyah

Dengan tema :

MENITI JALAN MERAIH KECINTAAN ALLAH TA’ALA

Waktu : Ahad, 26 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 19 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – dzuhur
Tempat : Masjid ISTIQLAL Jakarta Pusat

Info : (021) 8233661, (021) 70736543 , 08121055891

Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.

Insya Allah LIVE di radio rodja 756 am dan rodja TV

Saat LDR di Depan Mata

Kalender. Barang yang rajin kami lihat akhir-akhir ini.

Yah. Waktu kepulangan untuk persiapan melahirkan di kampung sudah semakin dekat. Itu berarti, LDR di depan mata……

Fiuuf, tak terbayang. Seperti apa rasanya jauh dari suami selama berbulan-bulan. Meskipun nantinya suami akan tetap mengusahakan sering pulang, minimal sebulan sekali. Belum ngerasain, tapi rasanya kok berat banget ya, hehe. kalau cuma seminggu dua minggu pisah sih pernah, dan itu juga rasanya “gimanaa gitu“.
Tapi ya, itu sudah kami pertimbangkan masak-masak. Mengalah dulu lah, demi buah hati. Dan memang sangat tidak memungkinkan untuk melahirkan di Ibukota. Bukan sekedar biaya melahirkan yang muahaaalll (ga cuma mahal :P).. tapi juga berbagai alasan lain. InsyaALloh, semoga ini keputusan yang terbaik.

Inilah salah satu lika-liku dalam menjaga sebuah hubungan. Teringat kata-kata suami, “Adakala, perpisahan itu dibutuhkan untuk semakin menggelorakan cinta“.

Semoga, ketika LDR.. hubungan kami akan tetap kuat dan semakin kuat. Semoga kami bisa belajar lebih banyak tentang komunikasi yang baik, juga tentang kepercayaan.. saat pasangan jauh di mata.

Satu hal yang agak berat di pikiran.. nanti siapa yang nyuciin baju suami, siap ayang nyetrikain.. siapa yang masakin (soalnya suami ga suka makanan luar yang ga jelas kebersihannya).. siapa yang beresin rumah (kalau ini sih,, ga perlu khawatir kaya’nya).. siapa.. siapa.. siapa… duh, jadi khawatiran… tapi bismillah saja deh. Aku percaya, insyaAlloh suami bisa menghandle sendiri…. insyaAlloh ga kan kesepian juga, towh banyak temen ikhwan di sekitar kontrakan…

Baik-baik ya suamiku………. jaga diri baik-baik…
Jangan kaget, nanti sebelum aku pulang, akan buanyaaakkk pesan dari istrimu yang cerewet ini😀

kamis, 26 Januari 2012

Antara Kebutuhan, Keinginan dan Kondisi

Yah, masalah klasik dan akan terus dihadapai oleh ibu rumah tangga adalah menyelaraskan antara kebutuhan, keinginan dan kondisi (Baca: kondisi dompet :P). Apalagi bagi pasangan baru seperti kami, yang masih harus banyak belajar mengatur keuangan rumah tangga.

HPL masih lumayan lama… tapi list kebutuhan (dan tentu saja: keinginan) sudah panjang. Tapi, seiring waktu yang terus berjalan, yang ada justru kebingungan. Mana kebutuhan yang harus didahulukan.

Kulkas dan Mesin Cuci
Keinginan yang sudah terpendam sejak lama untuk membeli Kulkas dan Mesin cuci, kini berubah menjadi kebutuhan yang cukup mendesak. Jika dahulu aku menahan diri untuk tidak membeli dalam rangka untuk melatih diri agar menjadi Istri rumah tangga yang lebih mandiri dan tidak manja dengan berbagai fasilitas elektronik, tapi kini kebutuhan untuk membeli kulkas dan mesin cuci itu terhambat dengan masalah tempat.

Kondisi kontrakan kami yang hanya berukuran 2,5 m x 11 m (maklum, rumah petak :P).. rasanya sama sekali tidak memungkinkan untuk membeli kulkas dan mesin cuci. The question is: Mau ditaruh di mana kulkas dan mesin cucinya??? hiks hiks.

Saat ini kontrakan kami sudah cukup penuh dengan barang-barang. Itu pun sudah diatur sedemikian rupa, agar kontrakan tetap terlihat agak luas.

Padahal, setelah melahirkan nanti, rasanya adanya kulkas dan mesin cuci akan sangat membantu pekerjaan. Karena sejak awal menikah, kami sudah berkomitmen untuk menerapkan pola masak dan pola makan sehat, sedangkan jika nanti sudah ada baby, rasanya kok agak sulit ya kalau harus belanja setiap hari. Dan sebenarnya masalah utama bukan di situ, tapi lebih ke variasi makanan. Sayur dan bahan mentah lauk yang dijual pendagang sayur di sekeliling kontrakan sangat terbatas. Itu menjadikan masakanku jadi kurang bervariasi. Belum lagi, sering kali kudapati ayam dan ikan-ikan yang dijual kurang segar. Kadang terpikir, enak sekali kalau bisa belanja di Pasar Minggu. Tak hanya lebih murah, tapi juga lebih segar.. dan tentu saja praktis! Bisa sekaligus beli banyak untuk persediaan minimal seminggu. Variasi masakan pun insyaAlloh akan lebih beragam (yang akan berujung pada nilai gizi yang lebih lengkap). Tapi permasalahannya selama ini adalah kami belum mempunyai kulkas, sehingga jika membeli sekaligus banyak, justru akan mubadzir (karena jika membeli eceran di Pasar Minggu, justru malah rugi. Karena harganya hanya selisih sedikit dengan tukang sayur keliling).

Ditambah pertimbangan bahwa kami akan butuh kulkas untuk tempat penyimpanan ASIP. Ini alasan terkuat kenapa akhir-akhir ini aku begitu ingin membeli kulkas.

Mesin Cuci.. sebenarnya masih ga terlalu urgent ya. Karena aku sendiri berharap, kalau setelah melahirkan nanti aku masih harus “terpaksa” mencuci pakai tangan, maka aku kan cepet langsingnya (hohoooo ^^). Aku pengen mesin cuci, hanya karena fungsi mesin pengeringnya itu lho, hehe. Ketika Jakarta berhari-hari hujan, sangat terasa repotnya ketika baju jemuran beberapa hari dijemur baru kering. Duh, kok ga kebayang ya kalau nanti bajunya dedek ga cepet kering…

Akhirnya, keinginan lama yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini pun kami tunda sementara. Minimal sampai kami mendapat kontrakan baru… yang aku berharap,,, sangat, semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih baik dari sekarang. Minimal sama-lah luasnya dengan kontrakan kami yang pertama, hehe.

HP Baru

Sebenarnya ini kebutuhan yang baru muncul. Kok passs banget, qodarulloh. Baik HP-ku dan HP suamiku butuh untuk dilembiru. Dilempar trus beli baru, hehe. Permasalahannya sama, HP kami sering mati mendadak, karena batere yang sudah drop. Masih ditambah kemasan luar yang sudah tak laya’ dilihat😛

Kebutuhan untuk beli HP baru sebenarnya sudah cukup lama. Tapi keinginan yang belum ada. Aku dan suami, sama-sama tipe yang melihat HP dari fungsinya. Yang penting bisa buat sms dan telp, it’s enough. ga perlu apliaksi macam-macam. Ga perlu model terbaru. Ga perlu smartphone. Asal pekerjaan masih lancar-lancar saja, it’s okaylah.

Agak malu sebenarnya, ketika ada acara kantor suami. Bertemu dengan rekan-rekan kerjanya, juga keluarga mereka. Wedeeww, semuanya pakai HP smartphone yang keren-keren, mahal, plus keluaran terbaru. Kami? masih berusaha Pede, meski ya terkadang sembunyi-sembunyi kalau mau pakai HP di dekat mereka, hehe.

Tapi, kata “butuh” menjadi muncul. Saat kami dapati bahwa HP kami memang fungsinya sudah sangat menurun. Ditambah, kami perlu beberapa aplikasi dan memori yang lebih besar untuk memperlancar pekerjaan. Dan sebuah lasan terakhir yang cukup manis (:D), kami ingin membuat dokumentasi perkembangan buah hati.

Untuk alasan satu itu (dokumentasi perkembangan buah hati), awalnya suami ingin beli webcam saja. Kenapa bukan kamera digital? karena suami ingin keluar dari khilaf masalah foto. Terlebih, melihat video tampaknya lebih menarik, dekskriptif dan “hidup”. Tapi ketika survey harga webcam…. wow! Dalam hati langsung terpikir, Ah, mending uangnya ditabung buat mbangun rumah aja.

So, keinginan beli webcam pun dicoret tebballl… diganti dengan HP yang bisa sekaligus untuk dokumentasi.

Biaya kelahiran dan Perlengkapan Baby

Alhamdulillah, nikmatnya jadi anak bungsu, hihi. Kami jadi tidak terlalu memusingkan kebutuhan yang satu ini. Alhamdulillah, perlengkapan bayi milik sepupu-sepupunya dedek banyak dan masih cukup bagus. Jadi, kami disuruh untuk memanfaatkan, bahkan dilarang keras untuk beli perlengkapan bayi yang baru. Kalaupun beli, yang kurang-kurang aja. InsyaAllah ga membutuhkan dana yang terlalu besar. Terlebih, ibu kan penjual baju dan perlengkapan bayi. Ntar tinggal masuk toko-nya ibu aja,, trus minta harga grosir deh, qiqiqiqiqi… alhamdulillah ^^

Biaya untuk melahirkan juga alhamdulillah sudah dipikirkan jauh-jauh hari, sejak tahu kalau lagi hamil. Karena ini kebutuhan vital,, yang dananya ga boleh diganggu gugaaat oleh kebutuhan yang lain.

Antara Kebutuhan, Keinginan, Kondisi… serta Bakat Belanja

List kebutuhan sudah ada, bahkan panjaang. Keinginan juga ada. Nah, ternyata masalah utama kami bukan pada kondisi, tapi pada Bakat Belanja!! Haha.

Begitulah saudara-saudara. Setahun 2 bulan usia pernikahan kami, satu lagi kesamaan yang ku temukan. Bahwa kami ini sama sekali tak berbakat belanja, hehe.

Teringat.. sepatu kantor suami yang seharusnya segeran diganti dengan yang lebih pantas. Teringat, bahwa suami membutuhkan lebih banyak celana panjang dan kemeja untuk kerja (karena yang dimiliki masih sedikit sekali, ngepas dengan jadwal mencuci dan menjemur, hehe). Teringat, bahwa suami baru punya 1 kemeja batik lengan panjang (padahal sering sekali ada acara kantor yang mengharuskan pakai kemeja batik lengan panjang). Teringat, bahwa aku sebenarnya juga butuh sandal yang lebih laya’. Teringat, bahwa aku juga butuh beberapa stel baju baru yang lebih laya’ dipakai jika ada acara kantor suami. Teringat, mantel bentuk pakaian yang sangat urgent untuk dimiliki suami (tahu sendiri kan,, baru musim hujan deras plus angin. Ditambah kondisi lalu lintas jakarta yang awut-awutan).  Teringat, suami butuh koper ukuran sedang agar lebih praktis.

Teringat….. aah, banyak sekali kebutuhan yang belum terbeli gara-gara kami ga punya bakat belanja😛

Ga tahu ya. Kami ini sama-sama terlalu banyak pertimbangan dalam membeli sesuatu. Bahkan sesuatu yang urgent sekali pun. Kami ini, sama-sama ga suka mall, toko, maupun pusta perbelanjaan lain. Ga betah lah. satu-satunya pusat perbelanjaan yang kami sukai hanyalah pasar tradisional😀

Payah sebenarnya. Karena bagaimana pun, bakat belanja itu “penting”. Karena, yang namanya kebutuhan kan emang harus dipenuhi, apalagi kebutuhan yang vital dan urgent.

Suamiku memang tipe yang sederhana plus ngiritan. Tipe yang ga nyaman jika memakai barang yang agak mahalan dikit. beliau juga berotak bisnis, beliau lebih banyak berpikir untuk bagaimana memutar uang, menghasilkan uang, daripada sekadar untuk belanja hal-hal yang menurut beliau, kita masih bisa cari barang bagus dengan harga yang lebih murah (padahal nanti lamaaa banget dapetnya, heuu heuuu).

Sedangkan aku adalah anak pedagang, yang banyak tahu harga kulakan berbagai macam barang. Jadi kalau mau beli sesuatu, selalu terpikir “Ah, kan harga kulakannya cuma segini😛

So, agak ragu-ragu sebenarnya.. apakah nanti list di atas akan jadi terbeli. Ataukah tertunda lagi seperti yang dulu-dulu. Wait and see….

Yang jelas, meski sama-sama ga punya bakat belanja.. untungnya kami sama dalam hal lain. Bahwa Pendidikan dan Kesehatan itu Penting. Dan memang harganya mahal. Jadi, ga ada kata ngirit untuk hal itu. Kami harus memberikan yang terbaik jika sudah menyangkut keluarga. Apalagi demi buah hati tercinta… ^__^

Rumput Tetangga selalu lebih Hijau

Tergelitik dengan sebuah tulisan di blog Mbak Siska… membuatku ingin menuliskannya di sini. Sebagai pengingat, terutama untuk diriku..

” Kebahagiaan manusia itu memang terlihat menyilaukan orang-orang di kejauhan. Cobalah kau ketuk sebentar dan lihat ke dalam rumahnya, kalau kau boleh masuk, mungkin ia dalam keadaan menangis karena ujian yang menimpa yang tak terlihat dari luar……. “

Ya! Kita harus berhenti meratapi nasib sendiri. Kemudian menyalahkan orang-orang lain atas kebahagiaan mereka

Tegarlah atas ujian yg menimpa & bersyukurlah atas nikmat Alloh yg banyaknya bahkan tak bisa kita hitung

Karena itu pula yg dilakukan oleh orang-orang yg bagi kita hidupnya terlihat lebih bahagia dr diri kita..

Padahal, bisa jadi hidup kita lebih byk bergelimang nikmat,, hanya saja kita terus menutupinya dgn ratapan & kepesimisan…

Mertua.. Orangtua Kita Juga…

Seandainya hutang jasa qta pd Mertua hanyalah krn mrk adlh org yg b’jasa m’besarkan & m’didik suami qta shg sprt skrg..
Tentu itu sdh mjd alasan kuat bg qta agar b’skp hormat & baik pd Mertua, sprt kpd ortu sendiri..

Tp tyt.. Mrk lebih dr skedar Mertua. Mrk adlh org yg bgitu baik.. Yg m’perlakukan & m’nyayangi qta sprt pd anak mrk sndiri..
Yg kbaikan & pngorbanan mrk bgitu besar utk qta menantunya..

Maka, birrul walidain.. Bukan hanya pd Ortu qta, tp jg Mertua yg mjd Ortu qta jg sjk qta m’nikah dgn anaknya..

~siap-siap menyambut kedatangn Simbok ♥ ♥ ♥ ~

The Best Husband I Ever HAd

Rasanya gimanaa gitu nulis judul di atas. Lha, emang saya punya berapa suami?? Hihi.. of course saya cuma punya 1 suami. Dan saya berharap, beliaulah suami pertama dan terakhir… Juga berharap, saya kan mendampinginya di Jannah-Nya kelak. Aamiin….

Sedikit kisah tadi malam..

Seperti biasa, saat senggang. Bercengkrama berdua. Tiba-tiba suami bertanya, “Mmm, dek. Coba dipikir-pikir, selama Mas jadi suami adek, apa ada yang kurang/cacat pada diri Mas sebagai suami?”

Heh?! Dahi saya langsung berkerut. Tapi kemudian langsung membalas dengan santai.

“Ada Mas! Fulus-nya kurang!!” Kataku sambil memperagakan isyarat dengan tangan.

Suami langsung tertawa lepas, “Haduuh.. Bukan itu! Kalau masalah fulus mah gampang. Kalau beneran kurang, bulan depan tinggal Mas tambah.. Heheee”

Haha.. kini giliranku yang tertawa. Ga lah… kan tadi cuma bercando sajooo😛

“Ayo dooong dek! Dipikir benar-benar… ” Ucap suami dengan wajah penuh harap.

Hmm.. apa ya???? Saya benar-benar berpikir keras. Sel-sel memori kupaksa mengingat, adakah cela pada diri suamiku?

Ayo dong dek. Ga mungkin ga ada. Tinggal ingat-ingat aja dari Mas bangun tidur sampai Mas tidur lagi..

Haduuh, apa coba? Lha kalau emang ga ada yang menurutku kurang, masa’ harus memaksakan diri menjawab? Lagian, Mas aneh deh, perasaan dah sering banget tanya pertanyaan seperti ini. Kalau diingat-ingat, per 3 bulan Mas tanya hal seperti ini😀

Dek?

Ahaaa! Teringat kebiasaan buruk suami yang kadang bikin saya jengkel setengah hidup😛

Saya sebutkan 2 kebiasaan buruk suami yang saya tidak suka. Suami manggut-manggut sambil tersenyum. Hm.. dalam hati saya merasa, bahwa saya masih terlalu memaksakan diri menjawab itu.

“Lalu dek… kalau Mas sebagai menantu, juga anggota keluarga di keluarga adek, adakah yang kurang?

Haduuh, pertanyaan apa pula ini? Makin bingung saya –a

Ya. Kebingungan saya bukan berarti saya tak punya jawaban. Bukan berarti suamiku adalah suami tanpa cela. Tidak! Hanya saja.. saya merasa bahwa segala kebaikan suami, sudah sanggup menutup segala kekurangannya. Segala kekurangannya pun, sejauh ini adalah kekurangan-kekurangan kecil, yang masih bisa saya tolerir. Kekurangan yang belum ada apa-apanya dibanding kekurangan-kekuranganku yag banyaak sebagai istri.

Bagaimana saya bisa bilang ada yang kurang, sedangkan selama ini saya lihat suami sudah berusaha memenuhi segala kewajibannya sebagai suami dan berusaha memenuhi hak-hak saya sebagai istri.

Apa yang kurang, sedangkan suami berusaha berakhlaq semulia mungkin sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Yah, bukan berarti saya tidak pernah menangis karena tersinggung dengan perkataan atau sikap suami. Tapi, setiap saya menangis atau marah, suami akan segera menyadari kesalahannya dan berusaha dengan segenap cara membuat saya tersenyum lagi. Dan saat itu, saya menjadi merasa, saya-lah yang terlalu kekanak-kanakan.. dan bukan suami yang salah.

Suamiku… engkau adalah nikmat istimewa dari Rabb-ku..

Jawaban atas segala doaku di penghujung malam.. di antara adzan dan iqomat.. di saat puasa dan hujan..
Engkau jawaban atas doaku, di saat aku mengadu pada Rabb-ku.. di saat aku sedih dan merasa lemah..

Engkaulah.. yang dahulu kuperjuangkan sedemikian rupa di hadapan orangtua dan keluargaku. Bukan karena aku terlanjur suka.. karena aku hanya sedikit sekali mengenalmu ketika itu. Hanya berbekal biodata dan sekilas info dari orang terdekatmu.  Ku perjuangkanmu.. karena saat itu aku sudah begitu lelah.. setelah penolakan demi peolakan saat kusodorkan satu persatu nama ikhwan… saat itu, adalah titik puncakku! Aku tak tahu tagi, masihkah aku punya semangat untuk berjuang agar bisa menikah dengan seorang ikhwan bermanhaj salaf,, jika engkau pun ditolak. Sedangkan menurutku, engkaulah ikhwan yang paling mendekati kriteria orangtuaku (aku ingat, bahkan dulu pun ada beberapa orang yang mempertanyakan, kenapa aku lebih memilihmu,, bukan ikhwan A, yang kemampuan bahasa arabnya sudah mahir. Bukan ikhwan B, yang hafalannya banyak. Bukan ikhwan C yang pintar ilmu diennya. Kenapa aku menolak ikhwan D, E, dll…. Ah! Biarlah Allah saja yang tahu alasannya). Lagipula, engkaulah ikhwan pertama yang ta’aruf denganku, dan kau sungguh berharap, hanya perlu satu kali ta’aruf.

Tapi kini, suamiku.. aku bersyukur bahwa aku dulu begitu memperjuangkanmu. Dan aku juga bersyukur, bahwa dulu engkau pun bertahan sedemikian rupa meski menghadapi berbagai ujian dari keluargaku.

Engkau yang dahulu hampir ditolak, kini menjelma menjadi menantu kesayangan, bahkan “anak laki-laki kecintaan”.
Dulu, aku tertunduk malu jika ditanya tentangmu.. tapi kini aku bisa berkata dengan bangga, “Aku tak salah kan memilihnya menjadi suamiku”

Suamiku, engkau lebih dari cukup bagiku. Bagaimana tidak.. Bukankah sebuah nikmat luar biasa mendapatkan suami yang benar-benar meletakkan seorang istri sesuai fitrahnya sebagai seorag wanita, yaitu menjadikan rumah kita sebagai istanaku. Engkau yang sanggup menarik simpati orangtuaku, sehingga membiarkanku tetap di istana kita, menjadi seorang istri sepenuhnya, buakn sebagai wanita karir. Engkau mewujudkannya segala idealisme kita, bahwa seorang istri laya’nya benar-benar berperan sebagai istri & ibu. Dan engkau, mewujudkannya dengan cara yag apik… denga lembut dan hikmah. Engkau tahu suamiku, tak semua ikhwan bermanhaj salaf bisa melakukannya?!

Engkau memberikan gambaran seutuhnya pada keluarga besarku, tentag bagaimana seharusnya seorang suami. Suami yang baik, yang memenuhi tanggungjawabnya memberi nafkah keluarganya. Yang tak hanya itu, tapi juga suami yang ringan tangan, membantu dan bekerjasama melakukan segala pekerjaan rumahtangga. Yang begitu lembut akhlaqnya.. juga memikat keramahannya. Engkau membuat keluargaku membuka mata, begini seharusnya seorang suami.

Suamiku, oranglain akan bilang aku berlebihan menilaimu. Tapi aku tak peduli. Karena mereka tak benar-benar tahu kondisinya. Mereka tak benar-benar tahu tentangku dan tentangmu. Mereka tak benar-benar tahu tentang keluarga kecil kita.

Aku hanya ingin menulis ini.. agar selalu teringat. Dan menjadi catatan indah bagi pelayaran biduk kita.

Berharap.. engkau kan selalu seperti ini. Suami yang membuatku selalu merasa bersyukur karena menjadi istrimu. Karena mengandung anak-anakmu. Suami yang membuatku merasa masih menjadi istri paling kurang di dunia, karena kebaikan-kebaikanmu yang begitu banyak.

And… you are the best husband I ever had…

Alhamdulillahilladzi bi ni’matih tatimmush sholihat